Rabu, 15 Mei 2013

Ketika Jurnalis Beropini

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 0 komentar

Seorang jurnalis boleh mengemukakan pendapatnya, tidak dalam berita, melainkan dalam kolom opini. Jurnalis tetap dibilang jurnalis walau menunjukkan sikapnya dengan jelas. Tak netral, tapi independen.

Namun, jurnalis yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Maggie Galagher dari Universal Press Syndicate mengatakan kolom opini untuk jurnalis ibarat “bicara dengan seseorang yang tak setuju dengan saya.”.

Ya, jurnalis yang menulis opini memang memiliki sudut pandangnya sendiri. Tapi jurnalis tetap harus menghargai fakta di atas segalanya.

Selain itu, jurnalis yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan ikut menjadi pemain.  Ini akan membuat jurnalis sulit melihat dengan sudut pandang yang berbeda.

Sulit pula meyakinkan masyarakat bahwa si jurnalis menulis opini dengan meletakkan kepentingan mereka dibanding kepentingan kelompok dimana jurnalis ikut bermain.

Kesetiaan kepada kebenaran ini yang membedakan jurnalis dengan agen propaganda. Tiap orang memiliki hak kebebasan berpendapat, bahkan menyuarakan propaganda sekalipun. Tapi jurnalisme tak sama. Independensi ini harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang jurnalis.

Berikut ini contoh salah satu opini yang pernah saya buat di tabloid Suaka, ketika menjadi bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa Suaka di UIN SGD Bandung:

Telat Sadar
Sebuah negri hidup, tumbuh dan berkembang. Segala wilayah didalamnya niscaya memiliki “ruh”, tetap hidup dan menjadi ruang kehidupan Jika ruhnya terawat dengan baik. Sebaliknya, negri mati lantaran “jantungnya “ tak dijaga agar tetap berdegup.

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis alam di sebuah negri yang “kaya”. Dulu, kita bersenandung tentang keindahan dan kekayaan alam. Kini, kita dengan cemas mengikuti berita kerusakan-kerusakan alam. Hujan di negri ini pun kini ibarat seekor naga yang tengah memporakporandakan negri.

Berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan Indonesia di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Lantas, apakah bangsa ini mau belajar? Mengenal sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah. Guru, singkatan dari digugu dan ditiru, tidak menjadi pengangan dalam berpikir dan berperilaku.

 Bencana ekologis di Indonesia berlanjut sampai hari ini. Kerusakan hutan dan daerah resapan air, pencemaran udara meningkat akibat aktivitas industri, serta banjir menjadi momok tahunan. Begitu luas kesengsaraan.

Dalam film The Happening yang disutradarai M. Night Shyamalan, fenomena ini dijawab dengan cara pikir yang nyentrik. Konon, alam memiliki rasa, dan bisa marah atas perbuatan manusia yang mengancam dan merusak kehidupan mereka. Untuk membalas, tanaman dan tumbuhan berevolusi menciptakan toksin beracun dan menjadi bencana umat manusia.

Pesan film ini adalah ancaman terhebat datang dari sesuatu yang tak terduga. Masalahnya, kesadaran akan hal itu selalu datang terlambat.

Film itu setidaknya meninggalkan semacam teka-teki: siapkah kita menghadapi bencana alam? Fenomena lingkungan negri ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Bersama waktu, ribuan orang di pedalaman seolah-olah terhenyak di sekitar tanah, sawah, ladang, yang makin sempit. Hutan dengan cepat gundul, pohon masih lama tumbuh, dan banjir akan datang lagi.

Ya, kesadaran memang selalu datang terlambat. Tak selamanya kita sadar dengan sifat tamak. Padahal, sumber daya alam yang menjadi monopoli pemerintah, tiap are tanah  yang diambil untuk pusat pembelanjaan, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai CO2, tiap butir zat sintesis yang mengalir ke sungai, semua itu pada akhirnya menghimpun menjadi sebuah daya yang membalik dan merusak. Pembangunan yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera, kenyataan yang terjadi di lapangan bisa sebaliknya. Manusia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Tantangan generasi penerus saat ini adalah memelihara pembangunan. Memelihara sebuah tanah air yang kaya. Sebuah negri sejatinya adalah ruang publik bagi seluruh warganya. Pola hubungan antara individu dengan lingkungan merupakan aktualisasi dari laku budaya setiap individu. Orang dapat bersyukur, dapat pula bertanya, apa artinya kesadaran yang datang telat.




Ketahui Dasar-dasar Menulis Berita

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 2 komentar

Profesi wartawan tentu tak lepas dari membuat karya jurnalistik. Senjatanya yaitu berita.

Berita adalah laporan peristiwa. Namun tak hanya peristiwa semata. Ide-ide, pemikiran, dan analisis-analisis berbagai masalah yang hangat dibicarakan masyarakat pun layak menjadi berita.

Nah, menulis berita sudah tentu jadi usaha wartawan dalam menjelaskan sebuah peristiwa atau isu kepada masyarakat. Dasar-dasar menulis berita yang patut diketahui oleh calon wartawan akan saya paparkan meliputi beberapa hal berikut ini:

1.      Berita Memiliki Unsur 5W+1H
 What :Apa yang terjadi
 Who : Siapa yang terlibat dalam kejadian itu
When :Kapan kejadian itu berlangsung
Where  :Di mana tempat kejadian itu
Why  : Kenapa terjadi demikian
How  : Bagaimana kejadian itu berlangsung.

 2.      Menggunakan Pola Penyusunan Piramida Terbalik
Menyusun berita yang paling ideal yakni menggunakan teori piramida terbalik. Strukturnya disebut sebagai “berita ringan” seperti straight news.

Menulis berita dengan cara piramida terbalik memungkinkan dilakukannya penyusutan fakta menurut nilainya masing-masing. Artinya, makin tidak penting fakta tersebut maka makin dibawah letaknya.

Penulisan tersusun ibarat garis lurus, yakni Awal-Klimaks-Akhir. Ditulis dari bagian paling penting atau paling kuat. Kemudian menyusul bagian penting lainnya yang mendukung, dan akhirnya menempatkan bagian yang kurang penting.

3.      Memiliki 3 Struktur yakni Head, Lead, dan Body
Head merupakan judul. Ini adalah struktur yang paling penting karena mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. 

Judul berfungsi untuk menarik minat pembaca, merangkum isi berita dan melukiskan suasana.

Penulisan judul hendaknya dibuat sesuai dengan lead berita.  Lead berita atau biasa disebut teras berita merupakan ringkasan peristiwa yang diberitakan. Yang dirangkum yakni fakta penting dari persoalan yang diangkat.

Sementara body atau tubuh berita merupakan tempat dimana berita terletak. Tubuh berita disusun dengan teknik piramida terbalik . antara alinea-alinea  harus saling melengkapi dan menjelaskan.


Referensi:
Sumadirian, AS Haris. 2011. Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


Ini Dia 7 Pedoman Bagi Wartawan Baru

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 0 komentar


Menjadi wartawan kata orang tidaklah mudah. Seseorang tak serta merta menjadi wartawan hanya karena menulis atau melaporkan peristiwa. 

Bill Kovach dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme pun menunjukkan betapa tidak mudahnya menjadi wartawan.

Di bawah ini saya sajikan beberapa pedoman yang bisa menjadi modal dasar sekaligus kelebihan untuk menjadi wartawan baru.


1.      Memahami dan menguasai jurnalisme

Menjadi wartawan bagi sebagian orang adalah panggilan jiwa. Kemampuan menulis dan mengumpulkan data menjadi informasi merupakan dasar-dasar awal yang menjadikan seseorang terpanggil menjadi wartawan.

IImuwan jerman, Siegfried Weishenberg, memperkenalkan 4 macam kompetensi wartawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan baik:

     1)     Kompetensi profesional, misalnya melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar, dan lainnya.

     2)     Kompetensi transfer, misalnya penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme, dan sebagainya.

     3)     Kompetensi teknis, misalnya computer, internet, desain grafis, dll
     4)     Kompetensi tingkat lanjut, misalnya pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu sosial, bahasa asing, dsb.

2.      Memiliki Kualitas yang Mumpuni
Jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang terlatih”. Niat baik dan usaha yang jujur pun tak cukup.

Kualitas jurnalisme yang baik bisa objektif, tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektivitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Verifikasi harus menjadi ”dewa” junjungan seorang wartawan profesional

Objektivitas tersebut tak diterangkan hanya lewat lipuan yang berimbang, tidak berat sebelah, serta akurat.

Bill Kovach dan Rosenstiel menjelaskan 5 konsep dalam verifikasi:
      1)     Jangan menambah atau mengarang apapun
      2)     Jangan menipu atau menyesatkan pembaca
      3)     Bersikap setransparan dan sejujur mungkin
      4)     Bersandarlah terutama pada reportase anda sendiri
      5)     Bersikap rendah hati

3.      Menyiarkan Berita Sesuai Fakta
Wartawan diharamkan untuk menyiarkan berita bohong. Wartawan harus setia kepada kebenaran. Kesetiaan kepada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan agen propaganda.

4.      Jadilah Jurnalis yang Baik, Memilliki Keunikan dan Bernilai.
Ketika seseorang menyandang profesi wartawan, maka ia dipaku oleh serangkaian aturan dalam kode etik jurnalistik. Wartawan wajib mengedepankan independensi.

Dalam konteks tersebut, wartawan dilarang menerima pemberian atau amplop dari narasumber. Selain itu, wartawan harus rendah hati. Mengakui kesalahan jika bersalah. Sikapnya yang sopan dalam mewawancarai, harus sama kepada setiap narasumber. 

5.      Gunakanlah Blog
Melakukan aktivitas jurnalistik menjadi lebih mudah berkat teknologi. Menulis, melaporkan peristiwa melalui foto dan video, dapat dengan lebih mudah dilakukan karena zaman ini kita difasilitasi oleh blog.

Oleh karena itu mulailah sekarang juga terbitkan blog anda, dan gunakan untuk menyiarkan informasi.

6.      Berinteraksi di Dunia Maya
Dunia internet memungkinkan kita untuk mencari informasi serta berinteraksi dengan orang lain.  Hal ini mengisyaratkan kita untuk menggunakan nilai-nilai dasar yang sama ketika kita berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.

Kita harus senantiasa berhati-hati dalam berinteraksi. Sajikan tulisan atau komentar yang berkualitas.  Ini dapat menjadi rujukan agar kualitas “kehidupan” kita di dunia maya semakin meningkat. Tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi orang lain.
.
7.      Banyak Membaca
Mendapatkan sudut pandang atau angle dalam menulis harus terus dilatih. Memang tidak mudah. Akan tetapi dengan amunisi pengetahuan yang terus ditambah dengan cara banyak membaca, maka menulis akan menjadi lebih mudah.

Dengan banyak membaca tulisan yang bermutu, itu bisa menjadi “pupuk” untuk menambah gairah menulis. Membaca pun dapat memperkaya kita dalam mengeksplorasi kata.

Sebelum anda menjadi wartawan baru, lekaslah banyak membaca terlebih dahulu!


Referensi:

http://bighow.com/journalism
Harsono, Andreas. 2010. Agama Saya adalah jurnalisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


Selasa, 14 Mei 2013

Kompas.com: Gak Perlu Intelektual, yang Penting Smart!

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar

Melihat perkembangan media online selama masa kebebasan pers, Ada keniscayaan baru. Jika dahulu orang hanya tahu informasi dari media cetak, sekarang dari media online.  Portal berita Kompas.com merupakan salah satu contoh konvergensi media cetak ke media online.

Secara content penulisan berita, berita yang ditulis dalam web biasanya memiliki kaidah penulisan yang sama dengan tata cara penulisan berita TV, radio, atau koran. Melalui link berikut, terdapat beberapa kriteria penulisan berita online http://ayomenulisfisip.files.wordpress.com/2011/02/teknik-penulisan-berita.ppt .

Penelitian terakhir Kompasiana menyebutkan bahwa pengguna online di Indonesia sebenarnya adalah anak-anak muda. Khusus di kompas.com, pengguna terbanyak berumur 15-29 tahun.

Kompas memang menghadapi khalayak yang tentu saja berbeda. Maka teknik penulisan kompas.com berbeda dengan Kompas cetak.

Redaktur Pelaksana Kompas.com, Pepih Nugraha, menjelaskan bahwa dalam penulisan judul, Kompas merumuskannya dengan istilah pertempuran tiga detik.

Judul  merupakan etalase pertama berita. Oleh karena itu, pemilihan judul berita menjadi sangat penting karena para pembaca dalam sekian detik bisa menutup layar atau berganti ke judul yang lain.

Karena khalayak dan karakter medium itu berbeda, maka penyajiannya pun berbeda. Apabila kita perhatikan, Kompas cetak merumuskan bahasanya sebagai bahasa resmi, sementara bahasa kompas.com lebih ke informal, tidak terlalu resmi bahasanya.

Kalau di Kompas cetak intelektual, maka di kompas.com cukup smart saja.

Melihat Kompas cetak dengan bahasanya, itu ibarat telepon. Telepon yang ada gagangnya, yang ada kabelnya. Seperti itu kesannya, karena memang tidak bisa diapa-apain. Baku!

Kadang-kadang bahasan  di Kompas cetak melipir, tidak to the point.   Tapi di  kompas.com bahasanya lugas saja, to the point. Itu yang membedakannya.

Di Kompas cetak ada judul ”PKS tak Kooperatif dalam Advokasi Hukum”. Apabila dimuat di online, judul akhirnya diubah: "Bersikap Antagonis, PKS Blunder!” http://nasional.kompas.com/read/2013/05/16/1106060/Bersikap.Antagonis.PKS.Blunder . Beda nuansanya, namun yang penting tidak mengubah isinya.

”Ayu Azhari Dikaitkan Kasus Suap Impor Daging”. Demikian judul di Kompas cetak. Maka di Kompas.com menjadi Inilah Mulanya Ayu Azhari Dikaitkan Suap Impor Sapi http://nasional.kompas.com/read/2013/05/02/17525057/Ini.Mulanya.Ayu.Azhari.Dikaitkan.Suap.Impor.Sapi . Di kompas.com hanya disisipkan kata inilah. Beda nuansanya dan banyak yang tertarik untuk membaca.

Hal ini harus diperhatikan, karena ini memberi pelajaran tersendiri untuk berita online agar dibuat menjadi atraktif. Maka jangan heran jika menemukan berita-berita yang judulnya nyeleneh tapi menarik di kompas.com. Selamat Membaca.


Ini Alasan Harus Doyan Ngeblog

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar
Ilustrasi: Dok.net

“Menulislah, atau Kau akan menghilang dalam pusaran sejarah”. Berkaca dari kutipan tersebut, alasan apa lagi yang membuat saya untuk tidak menulis?

Mungkin kita pernah merasakan ide-ide selintas, yang membawa berkeliling dunia, ke satu daerah asing yang tak pernah dipijak. Kemudian, berbekal kata, ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Bertujuan menceritakan segala peristiwa kepada pembaca.

Ada pepatah Inggris mengatakan Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Nah, di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi saat ini, sangat ironis jika kita hanya diam terpaku dan tak menghasilkan karya apapun.

Lewat nge-blog kita bisa mendapat lebih banyak keuntungan. Berikut ini saya sajikan apa aja sih keuntungan kita ketika aktif nge-blog.

Mencatat Sejarah Hidup Kita
Jika rajin menulis dan mentorehkan karya lewat menulis, setidaknya kita bisa dikenang lewat karya tulis kita. Catatan di blog kita itu akan menjadi saksi sejarah hidup kita.

Mempengaruhi dan Menginspirasi Pembaca
Tulisan kita di blog dapat mempengaruhi dan menginspirasi orang lain. Dengan cara seperti itu, kita secara tidak langsung bisa disebut sebagai entrepreneur dan motivator. Kalaupun tak bisa memotivasi orang secara langsung, setidaknya lewat menulis di blog pemikiran dan ide kita dapat tersalurkan.

Jadi Penulis Buku Terkenal
Ketika saya masih duduk di bangku SMA, blogger yang saya ketahui yaitu Raditya Dika. Hingga saat ini kebanyakan orang sudah hapal dan kenal dengan nama itu. Siapa yang tahu kalau buku yang telah ia tulis dan menjadi best seller itu pada awalnya tertuang dalam blog pribadinya.

Jadi Penulis Lepas
Selain bisa jadi penulis buku, berkat ngeblog kita juga bisa jadi penulis lepas Misalkan jika kita senang liburan atau travelling, sambil liburan kita juga nulis dan mempostingnya di blog pribadi.

Nah jika sekiranya hasil tulisannya bagus dan menarik, kita bisa tawarkan tulisan di blog pribadi kita kepada media yang memiliki rubrik perjalanan atau media wisata. Dengan cara seperti itu, tidak sedikit penulisan yang mendapatkan ongkos gratis dari tulisannya itu. contohnya saja Gol A Gong, ia mampu keliling Asia berkat menjual buah tulisannya.

Ladang Bisnis
Berkat menjamurnya media sosial, jiwa bisnis dapa ttersalurakn. Tidak jarang pebisnis memulai menjajakan barang dan jasanya lewat media blog.

Dengan menggunakan blog, kita bisa membuat lapak jualan. Kita bisa dengan bebas menjual apa saja selama tidak melanggar hukum dan moral.

Menghimpun Pertemanan dan Pengetahuan
Lewat blog kita juga bisa berbagi ilmu pengetahuan. Sharing pengalaman atau member masukan dengan blogger lainnya. Tidak jarang berkat hal itu, jejaring pertemanan kita semakin luas dan pengetahuan kita pun semakin banyak.


Rabu, 17 April 2013

Fakultas Tarbiyah Terapkan Sistem ISO

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, April 17, 2013 0 komentar



Menerapkan sistem manajemen mutu berstandar internasional ISO di Perguruan Tinggi merupakan suatu permasalahan serius yang harus direspon.

Hal tersebut kini sedang diusahakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya.

“Pengusulannya tahun 2012.  Hanya saja kita mengambil ancang-ancang 2013 sudah turun,” ujar Pembantu Dekan 3 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Hasan Basri, saat ditemui di kantornya, Jumat (12/04).

Yang dituju dari penerapan sistem mutu ISO adalah kepuasan pelanggan. Di dalam ruang lingkup persepsi Perguruan Tinggi sebagai organisasi jasa pelayanan pendidikan, pelanggan adalah para mahasiswa.

“ISO sendiri penekanannya pada tingkat kepuasan layanan,” lanjut Hasan.

Keberhasilan mencetak lulusan berkualitas sangat tergantung kepada kualitas mahasiswa, dosen, staf administrasi, interaksi belajar mengajar serta kurikulum.

Dengan menerapkan ISO secara diharapkan mampu menangani konsistensi kualitas faktor-faktor tersebut sehingga output yang dihasilkan juga berkualitas dan pada akhirnya mampu memuaskan masyarakat pengguna.

Disamping banyak keuntungan yang mungkin didapat dari penerapan ISO di Perguruan Tinggi, ada pula kendala yang dapat mengganjal upaya sertifikasi ISO. Menurut Hasan, hal tersebut terletak pada sarana dan prasarana kampus yang masih dalam tahap pembangunan.

“Kita sudah melakukan sosialisasi dengan dosen, dan mereka merespon positif. Bahkan ada surat pernyataan kesediaan dari semua dosen. Masing-masing sudah menandatangani kesiapan dan kesediaan,” ujar Hasan mengakhiri. 

Rabu, 27 Maret 2013

Kesadaran yang Datang Telat

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 27, 2013 0 komentar

Sebuah negri hidup, tumbuh dan berkembang. Segala wilayah didalamnya niscaya memiliki “ruh”, tetap hidup dan menjadi ruang kehidupan Jika ruhnya terawat dengan baik. Sebaliknya, negri mati lantaran “jantungnya “ tak dijaga agar tetap berdegup.

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis alam di sebuah negri yang “kaya”. Dulu, kita bersenandung tentang keindahan dan kekayaan alam. Kini, kita dengan cemas mengikuti berita kerusakan-kerusakan alam. Hujan di negri ini pun kini ibarat seekor naga yang tengah memporakporandakan negri.

Berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan Indonesia di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Lantas, apakah bangsa ini mau belajar? Mengenal sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah. Guru, singkatan dari digugu dan ditiru, tidak menjadi pengangan dalam berpikir dan berperilaku. Bencana ekologis di Indonesia berlanjut sampai hari ini. Kerusakan hutan dan daerah resapan air, pencemaran udara meningkat akibat aktivitas industri, serta banjir menjadi momok tahunan. Begitu luas kesengsaraan.

Dalam film The Happening yang disutradarai M. Night Shyamalan, fenomena ini dijawab dengan cara pikir yang nyentrik. Konon, alam memiliki rasa, dan bisa marah atas perbuatan manusia yang mengancam dan merusak kehidupan mereka. Untuk membalas, tanaman dan tumbuhan berevolusi menciptakan toksin beracun dan menjadi bencana umat manusia. Pesan film ini adalah ancaman terhebat datang dari sesuatu yang tak terduga. Masalahnya, kesadaran akan hal itu selalu datang terlambat.

Film itu setidaknya meninggalkan semacam teka-teki: siapkah kita menghadapi bencana alam? Fenomena lingkungan negri ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Bersama waktu, ribuan orang di pedalaman seolah-olah terhenyak di sekitar tanah, sawah, ladang, yang makin sempit. Hutan dengan cepat gundul, pohon masih lama tumbuh, dan banjir akan datang lagi.



Ya, kesadaran memang selalu datang terlambat. Tak selamanya kita sadar dengan sifat tamak. Padahal, sumber daya alam yang menjadi monopoli pemerintah, tiap are tanah  yang diambil untuk pusat pembelanjaan, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai CO2, tiap butir zat sintesis yang mengalir ke sungai, semua itu pada akhirnya menghimpun menjadi sebuah daya yang membalik dan merusak. Pembangunan yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera, kenyataan yang terjadi di lapangan bisa sebaliknya. Manusia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Tantangan generasi penerus saat ini adalah memelihara pembangunan. Memelihara sebuah tanah air yang kaya. Sebuah negri sejatinya adalah ruang publik bagi seluruh warganya. Pola hubungan antara individu dengan lingkungan merupakan aktualisasi dari laku budaya setiap individu. Orang dapat bersyukur, dapat pula bertanya, apa artinya kesadaran yang datang telat.

Kamis, 21 Maret 2013

Jurnalisme Warga

Ditulis oleh Riska Amelia di Kamis, Maret 21, 2013 0 komentar


Dewasa ini, di era berbasis teknologi masyarakat ditantang untuk berani mencari dan mengumpulkan berbagai macam peristiwa yang bernilai informasi yang ada di sekitar, untuk kemudian dilaporkan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk media seperti tulisan, foto, maupun video.

Kini, tak hanya jurnalis yang bekerja di media saja yang bisa memproduksi berita, masyarakat yang tidak berprofesi di sebuah media pun dapat berpartisipasi dalam menyebarkan informasi ke masyarakat yang kemudian dikenal dengan istilah jurnalisme warga.

Di Indonesia, jurnalisme warga menjamur berkat kemajuan teknologi. Perkembangannya dipicu oleh tragedy musibah tsunami aceh ketika tahun 2004.

Keberadaan social media seperti blog dan twitter menjadi alat untuk mempublikasikan berbagai karya jurnalistik. Tak hanya itu, media cetak maupun televisi kini mulai menyertakan berbagai konten yang menampung karya jurnalisme warga, seperti contohnya program wide shot di Metro TV.

Keberadaan jurnalisme warga disinyalir mampu mengalahkan media mainstream--yang kini tergerus fungsinya menjadi alat kekuasaan dan komersialisme—dalam hal keakuratan berita dan menurunnya kepercayaan public terhadap pemberitaan media mainstream.

Rabu, 20 Maret 2013

Berburu Akreditasi, Demi Kualitas Atau Harga diri?

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 20, 2013 1 komentar


Telat apabila bercerita tentang akreditasi pada mahasiswa yang sudah masuk kuliah. Kesadaran tentang akreditasi seharusnya dilakukan ketika mahasiswa belum masuk perguruan tinggi. Kenapa? karena akreditasi adalah salah satu filter efektif dalam menyaring pelamar kerja dan beasiswa.

Akreditasi dipahami sebagai suatu proses evaluasi dan penilaian mutu institusi perguruan tinggi dan program studi yang dilakukan oleh tim pakar sejawat di luar lembaga pendidikan tinggi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Menurut Kepala Penjamin Mutu UIN SGD Bandung Atang Abd.Hakim, hasil akreditasi sebuah perguruan tinggi diyakini sebagai bentuk pengakuan bahwa perguruan tinggi tersebut telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan.

Akreditasi sangat penting, sebab itu untuk melihat tingkat keseriusan, kemajuan yang dicapai oleh prodi. Tak sedikit perusahaan memberikan standar lulusan dari perguruan tinggi minimal B untuk dapat di proses selanjutnya dalam penyeleksian karyawan atau pengawai mereka. Bahkan beasiswa seperti Beswan Djarum menetapkan akreditasi jurusan minimal B sebagai persyaratan memperoleh beasiswa.

“Kualitas jurusan itu ditentukan oleh akreditasi. bahkan di sebagian tempat harus melampirkan akreditasi jurusan. Jadi, itu (Akreditasi, -Red) tidak bisa ditinggalkan begitu saja,” tutur Atang, saat ditemui di Al-Jami’ah, Jum’at (25/01).


Fakta ini, kata atang, menunjukkan betapa akreditasi jurusan sangat penting baik bagi kampus maupun mahasiswa, sebab nilai akreditasi menyangkut harga diri jurusan di mata masyarakat.

Dari semua Program studi yang ada di UIN SGD Bandung hanya jurusan Manajemen Pendidikan Islam yang mendapatkan nilai A, itu pun habis waktunya pada tahun lalu dan kini sedang dalam proses perpanjangan.

Beberapa program studi tertentu memiliki akreditasi B yakni Ilmu hukum, ilmu komunikasi, komunikasi penyiaran Islam, pendidikan bahasa inggris, pendidikan bahasa arab, mu’amalah, syakhshiyah, hukum pidana islam, siyasah, perbandingan mazhab hukum, perbandingan agama, dan tasawuf psikoterapi.

Bangunan kampus yang megah dan biaya kuliah yang mahal bukan jaminan bagusnya akreditasi di sebuah program studi. Akreditasi suatu jurusan atau program studi ditentukan berdasarkan komitmen program studi terhadap kapasitas institusional dan komitmen terhadap efektivitas program pendidikan, dimana standarnya mencakup 7 aspek yaitu, (1) Visi, misi, tujuan dan sasaran, dan strategi pencapaian, (2) Tata pamong,  kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu BAN-PT, (3) Mahasiswa dan lulusan, ini biasanya dilihat quesioner para lulusannya, IP yang diraih para mahasiswanya selama 5 tahun berjalan, (4) SDM, (5) Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik (6)Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi dan, (7) Penelitian dan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

Senada dengan Atang, Ketua Dekan Fakultas Psikologi Adang Hambali, mengamini begitu pentingnya nilai akreditasi jurusan. Berbagai Program studi di UIN SGD Bandung patutu berbenah diri untuk terus meningkatkan kualitas jurusannya. Seperti di Fakultas Psikologi yang akreditasinya masih C, bagi Adang ini adalah suatu keharusan untuk memacu agar akreditasi psikologi ini bisa mendapat nilai A.

Duduk dengan nyaman di ruangan kantornya, dengan mengenakan kemeja batik dan kopeah hitam, Adang menjelaskan bahwa saat ini fakultas psikologi sedang meningkatkan mutu fasilitas yang selama ini menghambat proses akreditasi.

“Jadi tahun ini masih bersiap-siap untuk mendapat akreditasi A.  Dulu kita tidak punya IT sekarang sudah punya. Komputerisasi akademik dan kami sudah siap dengan sistemnya,” katanya saat saat ditemui di kantornya, Kamis (31/01).

Selain masalah fasilitas, kurang tersosialisasinya visi dan misi fakultas menjadi hambatan dalam akreditasi jurusan. Mahasiswa kurang memahami bagaimana visi dan misi fakultas psikologi yaitu unggul dan kompetitif dalam menerapkan psikolgi yang berlandaskan nilai-nilai islam. Termasuk kualitas dosen yang saat ini visi misinya pun masih kurang.

“Dosennya dan proses pembelajaran, semua proses ini harus dicapai dalam rangka mencapai visi misi. Jadi antara cita-cita dan proses situ harus sama, prosesnya itu harus sesuai dengan misi,” ucap Adang.

Kemampuan Alumni

Pertimbangan mahasiswa setelah lulus dari universitas, tak lain adalah kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Hal yang menjadi permasalahan dalam penyerapan tenaga sarjana di Indonesia bukan hanya dari nilai akreditasi. Namun, nilai akreditasi tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan para alumninya. 

Ketika ditemui, Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Badrudin becerita bahwa saat ini jurusan MPI sudah mengajukan perpanjangan akreditasi atau reakreditasi, namun belum dilakukan visitasi. Menurut edaran dari BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), bahwa selama belum dilaksanakan visitasi, bagi yang sudah menunjukkan reakreditasi maka status nilainya masih tetap sama
“Jadi sampai hari ini masih jurusan MPI tetap berakreditasi A, walaupun sudah habis kemarin Oktober 2012,” jelasnya, Jum’at (01/02).

Badrudin mengakui pengaruh kekuatan nilai akreditasi sebagai bagian instrumen yang diapresiasi untuk keterserapan alumni di dunia kerja. Ia menjelaskan penyelenggaraan perguruan tinggi itu memiliki dua fungsi, yaitu satu untuk merespon pasar dan yang kedua untuk menciptakan pasar. MPI masuk dalam kategori merespon pasar, artinya masyarakat memang membutuhkan tenaga ahli dalam bidang pendidikan Islam, maka program studi MPI hadir untuk merespon kebutuhan masyarakat tersebut.


Badrudin pikir secara psikologis akreditasi membangun confident bagi mahasiswa. Ia melihat dampak psikologisnya apa, membangun rasa percaya diri dikalangan mahasiswa. Tak hanya itu, secara akademik tentu ini pun berdampak positif. Dengan dosen-dosen yang berkualitas, mahasiswa pun mendapatkan ilmu yang berkualitas.

Untuk mengetahui dan mengenali keterserapan alumninya di dunia kerja, jurusan MPI menyebarkan angket tracker study. Tracker study ini untuk mengevaluasi alumni dan pengguna alumni dan dampaknya untuk mengevaluasi kurikulum.

“Sebenarnya alumni-alumni KI ini dilapangan menjadi apa, diantaranya ada yang menjadi guru, pegawai administrasi, aktif jadi konsultan, bahkan ada yang di perbankan. Secara umun  mereka yang belum diangkat menjadi PNS adalah sebagai tenaga kerja pendidik,” tutur Badrudin.

Ia pun menambahkan, Ketika bisa melihat peluang alumni bisa bergerak diberbagai lembaga, maka setelahnya dilakukan peninjauan terhadap kurikulum dengan memperkuat kompetensi penunjang. Karena kompetensi lulusan itu ada kompetensi dasar, kompetensi utama dan kompetensi penunjang. Pada kompetensi penunjang itulah memberi ruang bagi lulusan untuk mengambil  profesi atau posisi yang memang memberi kesempatan bagi mereka untuk bekerja pada berbagai posisi.

Salah satu lulusan UIN SGD Bandung tahun 2006 dari jurusan Pendidikan Agama Islam Siti Nafisah, berpendapat pentingnya akreditasi berpengaruh kepada prestise di jurusan tersebut. Sedangkan kualitas alumni tergantung dari individu mahasiswa masing-masing, bukan bergantung dari akreditasi.

Selain mengutamakan akreditasi atas nama lembaga, kualitas peserta didik pun patut diutamakan. Rendahnya soft skill yang dimiliki para lulusan tak ayal menimbulkan permasalahan baru dalam keterserapan alumni di dunia kerja.

“menurut saya sih lebih ke cita-cita si mahasiswa atau apa yang dibutuhkan di masyarakat. Kalau akreditasinya bagus, tapi alumni gak tertarik atau masyarakat gak butuh, ya nganggur juga,” ucap Siti yang kini berprofesi sebagai guru honorer di salah satu Mts di Tasik.

**Dimuat di Tabloid SUAKA edisi Februari 2013

Tingkatkan Klasemen di Search Engine Lewat Meta Tag

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 20, 2013 0 komentar


Blogger memproduksikan ruang, dan sebuah ruang sosial tumbuh dari sebuah blog. Tentu saja kehadiran blog di dunia maya ini sangat membantu dalam mencari informasi-informasi yang kita butuhkan, bisa juga sebagai sarana mengiklankan sesuatu, berdiskusi, ataupun sebagai pekerjaan untuk menghasilkan uang.

Setelah awal yang lambat, blogging dengan cepat mendapatkan popularitas. Penggunaan Blog menyebar selama tahun 1999 dan tahun-tahun berikutnya.  Blog modern masa kini berevolusi dari buku harian online, di mana orang akan membuat akun yang isinya menceritakan tentang jalan kehidupan pribadi mereka maupun berbagi informasi. Sebagian penulis menyebut diri mereka sebagai diarists, atau citizen journalism.

Tampak blog memiliki kasta tertinggi dalam tingkatan sosial media, karena tugas seorang blogger adalah memberikan informasi yang dapat membantu para pembaca untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sehingga pembaca dapat belama-lama berada di situs kita karena menikmati informasi yang berguna. Maka dari itu, hal yang wajib dilakukan bagi seorang blogger--terutama bagi mereka yang peduli pada optimasi SEO-- yaitu menerapkan penggunaan meta tag pada template blogger. Jikalau mungkin diantara blogger ada yang merasa postingannya tidak terindeks sama sekali oleh Google, salah satu penyebabnya mungkin saja  karena tidak ada meta tag sama sekali dalam template blog.

Meta tag merupakan hal penting dalam penerapan SEO dasar dalam dunia blogging. Pengertian Meta Tag menurut “Kamus Istilah Blogger” yang ditulis oleh Medhy Aginta dalam www.blogguebo.com, adalah kode-kode HTML yang ada di bagian halaman sebuah situs. Tidak seperti tag HTML yang lain, meta tags tidak muncul di halaman posting, sehingga kebanyakan pengunjung tidak pernah melihatnya. Meta tags yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda, namun secara umum semuanya digunakan untuk memberikan informasi tambahan mengenai kondisi sebuah halaman situs kepada robot mesin pencari.

Meta tag bukan "peluru ajaib" yang akan meroketkan situs ke bagian atas semua daftar pencarian halaman. Mereka adalah alat yang akan membantu meningkatkan klasemen di search engine bagi yang menggunakannya. Blogger menggunakan ini dengan strategi pemasaran lainnya untuk mengumpulkan lebih banyak tampilan halaman di pencarian. Setelah memahami bahwa meta tag tidak dimaksudkan untuk dilihat oleh pembaca, melainkan untuk digunakan dalam browser itu sendiri, itu akan membuat mereka lebih mudah untuk digunakan.
 

Wasana Kata Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review