Kamis, 16 Mei 2013

Kenali Teknik Menulis di Media Online

Ditulis oleh Riska Amelia di Kamis, Mei 16, 2013 0 komentar
Ilustrasi. Net

Kegiatan menulis, khususnya dalam bidang jurnalisme, ialah merekontruksi fakta. Dalam merekontruksi fakta tersebut, kita menggunakan bahasa yang tidak sama. Perlu dibedakan teknik gaya penyampaian dan penyajiannya,

Kultur menulis di media online harus terbentuk dan dijalankan. Ini merupakan modal dasar sekaligus kelebihan yang dimiliki penulis di media online. Berikut ini teknik menulis di media online:

1.      Judul Ringkas dan Jelas
Dalam media online, pemilihan judul sangat penting. Pembaca dalam sekian detik dapat berganti ke judul lain. Oleh Karena itu judul dalam media online memiliki karakteristik tersendiri.

Menulis judul di media online sebaiknya tak melipir dan tak terlalu baku. Tidak bertele-tele, serta tidak bias dan kabur, agar maknanya mudah dipahami oleh pembaca.

2.      Buat intro yang Sesuai.
Awali tulisan dengan informasi yang penting. Tulis dengan kalimat aktif agar tulisan menjadi lebih “hidup”.

Tulisan yang baik ialah tulisan yang memberikan pengetahuan baru kepada pembacanya. Meski tulisannya sederhana, apabila kaya akan pengetahuan, pasti diminati pembaca.

3.       Eye catching
Menulis tentu bertujuan untuk dibaca publik yang banyak jumlahnya . Oleh karena itu jadikanlah tulisan di media online anda enak dan “renyah” dibaca oleh pembaca.

Usahakan agar informasi efektif tersampaikan kepada pembaca. Maka dari itu hindarilah kalimat panjang.

Wartawan harus memiliki keunikan dan memiliki gaya menulisnya sendiri. Gunakan kalimat yang lugas, dan dengan gaya bertutur atau narasi.

4.      Gunakan Summary Lead atau Ringkasan Berita
Buatlah lead dengan gaya bertutur. Rangkum fakta dengan jelas dan memiliki unsur 5W+1H yang disajikan dengan padat serta lengkap.

Usahakan makna yang disampaikan dalam berita mampu dipahami pembaca dengan waktu yang relatif cepat.

5.       Gunakan Alinea
Alinea berfungsi menciptakan jarak antar paragraf. Ini akan memberikan ruang bagi pembaca untuk sekedar istirahat mata. Teknik ini membuat pembaca tak akan mudah bosan.

6.      Gunakan Bahasa Umum dan Sederhana
Kalimat sederhana terdiri dari satu pokok, dan menghindari anak kalimat. Teknik yang digunakan ialah KISS (Keep it Simple and Short).
Ingat, bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang populer. Bahasa yang digunakan selayaknya populis dan umum digunakan.

7.      Bubuhkan Link yang Terkait.
Ada kalanya menulis membutuh referensi. Kewajiban penulis yang wajib dilakukan ialah mencantumkan sumber data yang diperoleh. Penulis harus jujur dan mempertanggung jawabkan isi tulisannya.

Link ini juga bisa membantu pembaca dalam memperoleh informasi tambahan.

8.      Cari Kata-kata yang Dapat Digabungkan dengan Link Video dan Gambar
Menulis di media online kita harus berani berinovasi dalam merekonstruksi peristiwa. Salah satu caranya ialah menggabungkan tulisan dengan tautan gambar atau video.

Penulis harus pintar memanfaatkan teknologi informasi dalam menyampaikan peristiwa. Dengan penggabungan video atau gambar, hal tersebut dapat memperkuat peristiwa dalam penulisan.

9.      Jangan Copy Paste!

Sumber:
Perkuliahan Jurnalistik Online
www.romeltea.com

Teknik Membuat Lead Berita

Ditulis oleh Riska Amelia di Kamis, Mei 16, 2013 2 komentar

Lead berita adalah jendela untuk melihat isi berita. Dengan penjelasan singkat, lead berusaha mengajak pembaca masuk ke tubuh berita.

Gaya penyampaian atau penulisan lead dalam media online tentu memiliki karakteristik tersendiri. Khalayak dan mediumnya berbeda, maka penyajiannya pun beda.

Yang harus disadari oleh penulis adalah waktu pembaca yang sempit. Lead yang tak menarik dapat menjadi faktor penyebab pembaca mudah beralih ke pemberitaan lain. Inilah tantangan bagi jurnalis dalam membuat lead.

1.      Buat lead dengan kalimat sederhana, enak dibaca dan ringkas
2.      Awali dengan siapa atau apa
3.      Paragraf pendek. Maksimal paragraph terdiri dari 4 baris
4.      Bila menggunakan istilah atau bahasa asing, berilah penjelasan singkat terlebih dahulu
               
Hakikat dari media online ialah menyampaikan pesan lebih cepat daripada media cetak. Hakikat berita ialah inti berita yang dilaporkan, pertama oleh head, kedua oleh lead, ketiga oleh body.

Apabila lead sudah menyampaikan informasi dengan lengkap, pembacanya tak perlu terus membaca ke bawah secara menyeluruh.

Melayani orang dengan secepat-cepatnya dengan cara membuat lead yang jelas menggambarkan isi berita. Inilah hakikat dari media online yang bekerja menyampaikan pesan lebih cepat.

Referensi:
Catatan Perkuliahan Jurnalistik Online
Makalah Masmimar Mangiang, Dosen Komunikasi Universitas Indonesia

Rabu, 15 Mei 2013

Ini yang Harus Dihindari Saat Menulis Artikel

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 1 komentar

Setiap surat kabar pasti punya kebijakan sendiri-sendiri dalam memuat naskah artikel pembaca. Dalam beberapa hal misalnya, media daerah lebih mengutamakan artikel yang mengangkat topik aktual daerah.

Misalkan Isu kenaikan harga BBM bersubsidi memang menjadi isu nasional. Akan tetapi, permasalahan politik lebih seksi. Bisa pula dipadupadankan. Misalnya isu kenaikan BBM dikaitkan dengan politik pemangku kepentingan bahan bakar di tingkat lokal.

Adakalanya pula kebijakan redaksi berseberangan dengan kritik banyak pihak. Misalnya, secara umum masyarakat tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan nilai pajak bumi dan bangunan. Namun, media malah pro terhadap kebijakan itu.

 Nah, kalau kita menulis hal itu dan sikap kita kontra pemerintah, sulit tulisan itu mau tembus. Sebab, sikap media massanya sama dan sebangun dengan kebijakan pemerintah. Ini kasuistis, tapi boleh jadi menjadi pemicu artikel kita sering tak naik siar.

Namun, secara umum media membutuhkan artikel yang disajikan dengan gaya bahasa yang baik, padat, berkedalaman, dan menyangkut isu yang aktual. Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab artikel tak dimuat menurut redaktur Media Indonesia:

Topiknya Tak aktual
Media massa mencari tulisan opini yang kadar aktualitasnya kuat. Maksudnya, tulisan yang dikirim hendaknya berkesesuaian dengan topik yang sedang hangat diberitakan.

Jika topik yang kita tulis tidak berkesesuaian dengan berita yang sedang hangat, peluang dimuatnya pasti kecil. Maka itu perlu rajin-rajin memperhatikan topik apa saja yang sekarang sedang berkembang. Twitter dan Facebook bisa menjadi sarana mengetahui trend apa yang sedang hangat.

Cara lainnya tentu saja mengikuti pemberitaan utama surat kabar. Yakinlah, redaktur opini surat kabar juga menantikan artikel opini yang topiknya kuat dan sesuai dengan berita yang banyak dibicarakan orang.

Banyak Mengulang Gagasan
Alasan kedua mengapa tulisan kita tidak dimuat ialah gagasan dalam tulisan mengulang tulisan lama. Menulis dengan topik yang hangat memang berpeluang mengulang gagasan penulis lain.

Maksudnya, tulisan yang kita hasilkan sebetulnya sama dengan apa yang pernah orang lain tulis, hanya berbeda cara menulisnya saja. Sedangkan konten secara keseluruhan hampir sama. Inilah yang boleh jadi menyebabkan tulisan kita tak diminati redaktur opini surat kabar.

Jadi, bagaimana solusinya? Jawabannya ialah perbanyak dengan gagasan sendiri. Bacalah semua artikel atau berita yang sejak pagi sampai siang ini bertebaran di media sosial atau portal berita. Kemudian ambil kesimpulan dari semua tulisan itu. Nah, ini berguna agar tulisan yang kita hasilkan siang ini dan kemudian dikirim ke media massa tidak sama dengan tulisan lain. Dengan redaksi lain, cari sudut pandang lain dan menilik sisi mana yang belum ditulis oleh penulis lain.

Apabila kita bisa menawarkan gagasan lain dalam tulisan, peluang tulisan dimuat surat kabar akan semakin besar. Jika hanya repetisi, sulit bersaing dengan penulis lainnya.

Terlalu Bertele-tele
Opini yang bertele-tele juga malas dimuat oleh redaktur opini. Bertele-tele maksudnya tidak fokus pokok masalah.

Bertele-tele yang lain bisa juga karena kalimat pembukanya tidak menggambarkan judul dan konten tulisan secara keseluruhan. Bukannya fokus dan langsung ke pokok masalah, kita malah terlalu panjang untuk masuk ke topik. Hal itu menyebabkan tulisan kita bertele-tele.

Maka itu, berusahalah tidak bertele-tele dalam menulis opini.. Hajar sejak awal dan pertahankan keterfokusan itu.

Kalimat panjang-panjang
Redaktur juga agak malas menurunkan tulisan dengan pengaturan kalimat yang panjang-panjang. Mungkin sekali topiknya bagus, gagasannya juga baik, tetapi kalimat yang dibuat kelewat panjang. Satu alinea bisa untuk satu paragraf. Naskah dengan kondisi seperti itu menyulitkan pekerjaan mengeditnya.  

Maka itu, upayakan menulis pendek-pendek. Peter Henshall dan David Ingram dalam  Menjadi Jurnalis, merumuskan KISS saat menulis. KISS : keep it short and simple (Buat kalimat pendek dan sederhana). Ukuran pendek terdiri dari 8 sampai dengan 14 kata dalam satu kalimat.

Tegasnya, menulislah dengan pendek-pendek. Jangan menyebalkan redaktur opini dengan membuat kalimat kelewat panjang. Bikin pendek dan sederhana. 

Ketika Jurnalis Beropini

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 0 komentar

Seorang jurnalis boleh mengemukakan pendapatnya, tidak dalam berita, melainkan dalam kolom opini. Jurnalis tetap dibilang jurnalis walau menunjukkan sikapnya dengan jelas. Tak netral, tapi independen.

Namun, jurnalis yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Maggie Galagher dari Universal Press Syndicate mengatakan kolom opini untuk jurnalis ibarat “bicara dengan seseorang yang tak setuju dengan saya.”.

Ya, jurnalis yang menulis opini memang memiliki sudut pandangnya sendiri. Tapi jurnalis tetap harus menghargai fakta di atas segalanya.

Selain itu, jurnalis yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan ikut menjadi pemain.  Ini akan membuat jurnalis sulit melihat dengan sudut pandang yang berbeda.

Sulit pula meyakinkan masyarakat bahwa si jurnalis menulis opini dengan meletakkan kepentingan mereka dibanding kepentingan kelompok dimana jurnalis ikut bermain.

Kesetiaan kepada kebenaran ini yang membedakan jurnalis dengan agen propaganda. Tiap orang memiliki hak kebebasan berpendapat, bahkan menyuarakan propaganda sekalipun. Tapi jurnalisme tak sama. Independensi ini harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang jurnalis.

Berikut ini contoh salah satu opini yang pernah saya buat di tabloid Suaka, ketika menjadi bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa Suaka di UIN SGD Bandung:

Telat Sadar
Sebuah negri hidup, tumbuh dan berkembang. Segala wilayah didalamnya niscaya memiliki “ruh”, tetap hidup dan menjadi ruang kehidupan Jika ruhnya terawat dengan baik. Sebaliknya, negri mati lantaran “jantungnya “ tak dijaga agar tetap berdegup.

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis alam di sebuah negri yang “kaya”. Dulu, kita bersenandung tentang keindahan dan kekayaan alam. Kini, kita dengan cemas mengikuti berita kerusakan-kerusakan alam. Hujan di negri ini pun kini ibarat seekor naga yang tengah memporakporandakan negri.

Berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan Indonesia di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Lantas, apakah bangsa ini mau belajar? Mengenal sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah. Guru, singkatan dari digugu dan ditiru, tidak menjadi pengangan dalam berpikir dan berperilaku.

 Bencana ekologis di Indonesia berlanjut sampai hari ini. Kerusakan hutan dan daerah resapan air, pencemaran udara meningkat akibat aktivitas industri, serta banjir menjadi momok tahunan. Begitu luas kesengsaraan.

Dalam film The Happening yang disutradarai M. Night Shyamalan, fenomena ini dijawab dengan cara pikir yang nyentrik. Konon, alam memiliki rasa, dan bisa marah atas perbuatan manusia yang mengancam dan merusak kehidupan mereka. Untuk membalas, tanaman dan tumbuhan berevolusi menciptakan toksin beracun dan menjadi bencana umat manusia.

Pesan film ini adalah ancaman terhebat datang dari sesuatu yang tak terduga. Masalahnya, kesadaran akan hal itu selalu datang terlambat.

Film itu setidaknya meninggalkan semacam teka-teki: siapkah kita menghadapi bencana alam? Fenomena lingkungan negri ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Bersama waktu, ribuan orang di pedalaman seolah-olah terhenyak di sekitar tanah, sawah, ladang, yang makin sempit. Hutan dengan cepat gundul, pohon masih lama tumbuh, dan banjir akan datang lagi.

Ya, kesadaran memang selalu datang terlambat. Tak selamanya kita sadar dengan sifat tamak. Padahal, sumber daya alam yang menjadi monopoli pemerintah, tiap are tanah  yang diambil untuk pusat pembelanjaan, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai CO2, tiap butir zat sintesis yang mengalir ke sungai, semua itu pada akhirnya menghimpun menjadi sebuah daya yang membalik dan merusak. Pembangunan yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera, kenyataan yang terjadi di lapangan bisa sebaliknya. Manusia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Tantangan generasi penerus saat ini adalah memelihara pembangunan. Memelihara sebuah tanah air yang kaya. Sebuah negri sejatinya adalah ruang publik bagi seluruh warganya. Pola hubungan antara individu dengan lingkungan merupakan aktualisasi dari laku budaya setiap individu. Orang dapat bersyukur, dapat pula bertanya, apa artinya kesadaran yang datang telat.




Ketahui Dasar-dasar Menulis Berita

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 2 komentar

Profesi wartawan tentu tak lepas dari membuat karya jurnalistik. Senjatanya yaitu berita.

Berita adalah laporan peristiwa. Namun tak hanya peristiwa semata. Ide-ide, pemikiran, dan analisis-analisis berbagai masalah yang hangat dibicarakan masyarakat pun layak menjadi berita.

Nah, menulis berita sudah tentu jadi usaha wartawan dalam menjelaskan sebuah peristiwa atau isu kepada masyarakat. Dasar-dasar menulis berita yang patut diketahui oleh calon wartawan akan saya paparkan meliputi beberapa hal berikut ini:

1.      Berita Memiliki Unsur 5W+1H
 What :Apa yang terjadi
 Who : Siapa yang terlibat dalam kejadian itu
When :Kapan kejadian itu berlangsung
Where  :Di mana tempat kejadian itu
Why  : Kenapa terjadi demikian
How  : Bagaimana kejadian itu berlangsung.

 2.      Menggunakan Pola Penyusunan Piramida Terbalik
Menyusun berita yang paling ideal yakni menggunakan teori piramida terbalik. Strukturnya disebut sebagai “berita ringan” seperti straight news.

Menulis berita dengan cara piramida terbalik memungkinkan dilakukannya penyusutan fakta menurut nilainya masing-masing. Artinya, makin tidak penting fakta tersebut maka makin dibawah letaknya.

Penulisan tersusun ibarat garis lurus, yakni Awal-Klimaks-Akhir. Ditulis dari bagian paling penting atau paling kuat. Kemudian menyusul bagian penting lainnya yang mendukung, dan akhirnya menempatkan bagian yang kurang penting.

3.      Memiliki 3 Struktur yakni Head, Lead, dan Body
Head merupakan judul. Ini adalah struktur yang paling penting karena mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. 

Judul berfungsi untuk menarik minat pembaca, merangkum isi berita dan melukiskan suasana.

Penulisan judul hendaknya dibuat sesuai dengan lead berita.  Lead berita atau biasa disebut teras berita merupakan ringkasan peristiwa yang diberitakan. Yang dirangkum yakni fakta penting dari persoalan yang diangkat.

Sementara body atau tubuh berita merupakan tempat dimana berita terletak. Tubuh berita disusun dengan teknik piramida terbalik . antara alinea-alinea  harus saling melengkapi dan menjelaskan.


Referensi:
Sumadirian, AS Haris. 2011. Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


Ini Dia 7 Pedoman Bagi Wartawan Baru

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Mei 15, 2013 0 komentar


Menjadi wartawan kata orang tidaklah mudah. Seseorang tak serta merta menjadi wartawan hanya karena menulis atau melaporkan peristiwa. 

Bill Kovach dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme pun menunjukkan betapa tidak mudahnya menjadi wartawan.

Di bawah ini saya sajikan beberapa pedoman yang bisa menjadi modal dasar sekaligus kelebihan untuk menjadi wartawan baru.


1.      Memahami dan menguasai jurnalisme

Menjadi wartawan bagi sebagian orang adalah panggilan jiwa. Kemampuan menulis dan mengumpulkan data menjadi informasi merupakan dasar-dasar awal yang menjadikan seseorang terpanggil menjadi wartawan.

IImuwan jerman, Siegfried Weishenberg, memperkenalkan 4 macam kompetensi wartawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan baik:

     1)     Kompetensi profesional, misalnya melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar, dan lainnya.

     2)     Kompetensi transfer, misalnya penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme, dan sebagainya.

     3)     Kompetensi teknis, misalnya computer, internet, desain grafis, dll
     4)     Kompetensi tingkat lanjut, misalnya pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu sosial, bahasa asing, dsb.

2.      Memiliki Kualitas yang Mumpuni
Jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang terlatih”. Niat baik dan usaha yang jujur pun tak cukup.

Kualitas jurnalisme yang baik bisa objektif, tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektivitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Verifikasi harus menjadi ”dewa” junjungan seorang wartawan profesional

Objektivitas tersebut tak diterangkan hanya lewat lipuan yang berimbang, tidak berat sebelah, serta akurat.

Bill Kovach dan Rosenstiel menjelaskan 5 konsep dalam verifikasi:
      1)     Jangan menambah atau mengarang apapun
      2)     Jangan menipu atau menyesatkan pembaca
      3)     Bersikap setransparan dan sejujur mungkin
      4)     Bersandarlah terutama pada reportase anda sendiri
      5)     Bersikap rendah hati

3.      Menyiarkan Berita Sesuai Fakta
Wartawan diharamkan untuk menyiarkan berita bohong. Wartawan harus setia kepada kebenaran. Kesetiaan kepada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan agen propaganda.

4.      Jadilah Jurnalis yang Baik, Memilliki Keunikan dan Bernilai.
Ketika seseorang menyandang profesi wartawan, maka ia dipaku oleh serangkaian aturan dalam kode etik jurnalistik. Wartawan wajib mengedepankan independensi.

Dalam konteks tersebut, wartawan dilarang menerima pemberian atau amplop dari narasumber. Selain itu, wartawan harus rendah hati. Mengakui kesalahan jika bersalah. Sikapnya yang sopan dalam mewawancarai, harus sama kepada setiap narasumber. 

5.      Gunakanlah Blog
Melakukan aktivitas jurnalistik menjadi lebih mudah berkat teknologi. Menulis, melaporkan peristiwa melalui foto dan video, dapat dengan lebih mudah dilakukan karena zaman ini kita difasilitasi oleh blog.

Oleh karena itu mulailah sekarang juga terbitkan blog anda, dan gunakan untuk menyiarkan informasi.

6.      Berinteraksi di Dunia Maya
Dunia internet memungkinkan kita untuk mencari informasi serta berinteraksi dengan orang lain.  Hal ini mengisyaratkan kita untuk menggunakan nilai-nilai dasar yang sama ketika kita berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.

Kita harus senantiasa berhati-hati dalam berinteraksi. Sajikan tulisan atau komentar yang berkualitas.  Ini dapat menjadi rujukan agar kualitas “kehidupan” kita di dunia maya semakin meningkat. Tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, namun juga bermanfaat bagi orang lain.
.
7.      Banyak Membaca
Mendapatkan sudut pandang atau angle dalam menulis harus terus dilatih. Memang tidak mudah. Akan tetapi dengan amunisi pengetahuan yang terus ditambah dengan cara banyak membaca, maka menulis akan menjadi lebih mudah.

Dengan banyak membaca tulisan yang bermutu, itu bisa menjadi “pupuk” untuk menambah gairah menulis. Membaca pun dapat memperkaya kita dalam mengeksplorasi kata.

Sebelum anda menjadi wartawan baru, lekaslah banyak membaca terlebih dahulu!


Referensi:

http://bighow.com/journalism
Harsono, Andreas. 2010. Agama Saya adalah jurnalisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


Selasa, 14 Mei 2013

Kompas.com: Gak Perlu Intelektual, yang Penting Smart!

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar

Melihat perkembangan media online selama masa kebebasan pers, Ada keniscayaan baru. Jika dahulu orang hanya tahu informasi dari media cetak, sekarang dari media online.  Portal berita Kompas.com merupakan salah satu contoh konvergensi media cetak ke media online.

Secara content penulisan berita, berita yang ditulis dalam web biasanya memiliki kaidah penulisan yang sama dengan tata cara penulisan berita TV, radio, atau koran. Melalui link berikut, terdapat beberapa kriteria penulisan berita online http://ayomenulisfisip.files.wordpress.com/2011/02/teknik-penulisan-berita.ppt .

Penelitian terakhir Kompasiana menyebutkan bahwa pengguna online di Indonesia sebenarnya adalah anak-anak muda. Khusus di kompas.com, pengguna terbanyak berumur 15-29 tahun.

Kompas memang menghadapi khalayak yang tentu saja berbeda. Maka teknik penulisan kompas.com berbeda dengan Kompas cetak.

Redaktur Pelaksana Kompas.com, Pepih Nugraha, menjelaskan bahwa dalam penulisan judul, Kompas merumuskannya dengan istilah pertempuran tiga detik.

Judul  merupakan etalase pertama berita. Oleh karena itu, pemilihan judul berita menjadi sangat penting karena para pembaca dalam sekian detik bisa menutup layar atau berganti ke judul yang lain.

Karena khalayak dan karakter medium itu berbeda, maka penyajiannya pun berbeda. Apabila kita perhatikan, Kompas cetak merumuskan bahasanya sebagai bahasa resmi, sementara bahasa kompas.com lebih ke informal, tidak terlalu resmi bahasanya.

Kalau di Kompas cetak intelektual, maka di kompas.com cukup smart saja.

Melihat Kompas cetak dengan bahasanya, itu ibarat telepon. Telepon yang ada gagangnya, yang ada kabelnya. Seperti itu kesannya, karena memang tidak bisa diapa-apain. Baku!

Kadang-kadang bahasan  di Kompas cetak melipir, tidak to the point.   Tapi di  kompas.com bahasanya lugas saja, to the point. Itu yang membedakannya.

Di Kompas cetak ada judul ”PKS tak Kooperatif dalam Advokasi Hukum”. Apabila dimuat di online, judul akhirnya diubah: "Bersikap Antagonis, PKS Blunder!” http://nasional.kompas.com/read/2013/05/16/1106060/Bersikap.Antagonis.PKS.Blunder . Beda nuansanya, namun yang penting tidak mengubah isinya.

”Ayu Azhari Dikaitkan Kasus Suap Impor Daging”. Demikian judul di Kompas cetak. Maka di Kompas.com menjadi Inilah Mulanya Ayu Azhari Dikaitkan Suap Impor Sapi http://nasional.kompas.com/read/2013/05/02/17525057/Ini.Mulanya.Ayu.Azhari.Dikaitkan.Suap.Impor.Sapi . Di kompas.com hanya disisipkan kata inilah. Beda nuansanya dan banyak yang tertarik untuk membaca.

Hal ini harus diperhatikan, karena ini memberi pelajaran tersendiri untuk berita online agar dibuat menjadi atraktif. Maka jangan heran jika menemukan berita-berita yang judulnya nyeleneh tapi menarik di kompas.com. Selamat Membaca.


Ini Alasan Harus Doyan Ngeblog

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar
Ilustrasi: Dok.net

“Menulislah, atau Kau akan menghilang dalam pusaran sejarah”. Berkaca dari kutipan tersebut, alasan apa lagi yang membuat saya untuk tidak menulis?

Mungkin kita pernah merasakan ide-ide selintas, yang membawa berkeliling dunia, ke satu daerah asing yang tak pernah dipijak. Kemudian, berbekal kata, ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Bertujuan menceritakan segala peristiwa kepada pembaca.

Ada pepatah Inggris mengatakan Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Nah, di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi saat ini, sangat ironis jika kita hanya diam terpaku dan tak menghasilkan karya apapun.

Lewat nge-blog kita bisa mendapat lebih banyak keuntungan. Berikut ini saya sajikan apa aja sih keuntungan kita ketika aktif nge-blog.

Mencatat Sejarah Hidup Kita
Jika rajin menulis dan mentorehkan karya lewat menulis, setidaknya kita bisa dikenang lewat karya tulis kita. Catatan di blog kita itu akan menjadi saksi sejarah hidup kita.

Mempengaruhi dan Menginspirasi Pembaca
Tulisan kita di blog dapat mempengaruhi dan menginspirasi orang lain. Dengan cara seperti itu, kita secara tidak langsung bisa disebut sebagai entrepreneur dan motivator. Kalaupun tak bisa memotivasi orang secara langsung, setidaknya lewat menulis di blog pemikiran dan ide kita dapat tersalurkan.

Jadi Penulis Buku Terkenal
Ketika saya masih duduk di bangku SMA, blogger yang saya ketahui yaitu Raditya Dika. Hingga saat ini kebanyakan orang sudah hapal dan kenal dengan nama itu. Siapa yang tahu kalau buku yang telah ia tulis dan menjadi best seller itu pada awalnya tertuang dalam blog pribadinya.

Jadi Penulis Lepas
Selain bisa jadi penulis buku, berkat ngeblog kita juga bisa jadi penulis lepas Misalkan jika kita senang liburan atau travelling, sambil liburan kita juga nulis dan mempostingnya di blog pribadi.

Nah jika sekiranya hasil tulisannya bagus dan menarik, kita bisa tawarkan tulisan di blog pribadi kita kepada media yang memiliki rubrik perjalanan atau media wisata. Dengan cara seperti itu, tidak sedikit penulisan yang mendapatkan ongkos gratis dari tulisannya itu. contohnya saja Gol A Gong, ia mampu keliling Asia berkat menjual buah tulisannya.

Ladang Bisnis
Berkat menjamurnya media sosial, jiwa bisnis dapa ttersalurakn. Tidak jarang pebisnis memulai menjajakan barang dan jasanya lewat media blog.

Dengan menggunakan blog, kita bisa membuat lapak jualan. Kita bisa dengan bebas menjual apa saja selama tidak melanggar hukum dan moral.

Menghimpun Pertemanan dan Pengetahuan
Lewat blog kita juga bisa berbagi ilmu pengetahuan. Sharing pengalaman atau member masukan dengan blogger lainnya. Tidak jarang berkat hal itu, jejaring pertemanan kita semakin luas dan pengetahuan kita pun semakin banyak.


Rabu, 17 April 2013

Fakultas Tarbiyah Terapkan Sistem ISO

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, April 17, 2013 0 komentar



Menerapkan sistem manajemen mutu berstandar internasional ISO di Perguruan Tinggi merupakan suatu permasalahan serius yang harus direspon.

Hal tersebut kini sedang diusahakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya.

“Pengusulannya tahun 2012.  Hanya saja kita mengambil ancang-ancang 2013 sudah turun,” ujar Pembantu Dekan 3 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Hasan Basri, saat ditemui di kantornya, Jumat (12/04).

Yang dituju dari penerapan sistem mutu ISO adalah kepuasan pelanggan. Di dalam ruang lingkup persepsi Perguruan Tinggi sebagai organisasi jasa pelayanan pendidikan, pelanggan adalah para mahasiswa.

“ISO sendiri penekanannya pada tingkat kepuasan layanan,” lanjut Hasan.

Keberhasilan mencetak lulusan berkualitas sangat tergantung kepada kualitas mahasiswa, dosen, staf administrasi, interaksi belajar mengajar serta kurikulum.

Dengan menerapkan ISO secara diharapkan mampu menangani konsistensi kualitas faktor-faktor tersebut sehingga output yang dihasilkan juga berkualitas dan pada akhirnya mampu memuaskan masyarakat pengguna.

Disamping banyak keuntungan yang mungkin didapat dari penerapan ISO di Perguruan Tinggi, ada pula kendala yang dapat mengganjal upaya sertifikasi ISO. Menurut Hasan, hal tersebut terletak pada sarana dan prasarana kampus yang masih dalam tahap pembangunan.

“Kita sudah melakukan sosialisasi dengan dosen, dan mereka merespon positif. Bahkan ada surat pernyataan kesediaan dari semua dosen. Masing-masing sudah menandatangani kesiapan dan kesediaan,” ujar Hasan mengakhiri. 

Rabu, 27 Maret 2013

Kesadaran yang Datang Telat

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 27, 2013 0 komentar

Sebuah negri hidup, tumbuh dan berkembang. Segala wilayah didalamnya niscaya memiliki “ruh”, tetap hidup dan menjadi ruang kehidupan Jika ruhnya terawat dengan baik. Sebaliknya, negri mati lantaran “jantungnya “ tak dijaga agar tetap berdegup.

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis alam di sebuah negri yang “kaya”. Dulu, kita bersenandung tentang keindahan dan kekayaan alam. Kini, kita dengan cemas mengikuti berita kerusakan-kerusakan alam. Hujan di negri ini pun kini ibarat seekor naga yang tengah memporakporandakan negri.

Berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan Indonesia di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Lantas, apakah bangsa ini mau belajar? Mengenal sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah. Guru, singkatan dari digugu dan ditiru, tidak menjadi pengangan dalam berpikir dan berperilaku. Bencana ekologis di Indonesia berlanjut sampai hari ini. Kerusakan hutan dan daerah resapan air, pencemaran udara meningkat akibat aktivitas industri, serta banjir menjadi momok tahunan. Begitu luas kesengsaraan.

Dalam film The Happening yang disutradarai M. Night Shyamalan, fenomena ini dijawab dengan cara pikir yang nyentrik. Konon, alam memiliki rasa, dan bisa marah atas perbuatan manusia yang mengancam dan merusak kehidupan mereka. Untuk membalas, tanaman dan tumbuhan berevolusi menciptakan toksin beracun dan menjadi bencana umat manusia. Pesan film ini adalah ancaman terhebat datang dari sesuatu yang tak terduga. Masalahnya, kesadaran akan hal itu selalu datang terlambat.

Film itu setidaknya meninggalkan semacam teka-teki: siapkah kita menghadapi bencana alam? Fenomena lingkungan negri ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Bersama waktu, ribuan orang di pedalaman seolah-olah terhenyak di sekitar tanah, sawah, ladang, yang makin sempit. Hutan dengan cepat gundul, pohon masih lama tumbuh, dan banjir akan datang lagi.



Ya, kesadaran memang selalu datang terlambat. Tak selamanya kita sadar dengan sifat tamak. Padahal, sumber daya alam yang menjadi monopoli pemerintah, tiap are tanah  yang diambil untuk pusat pembelanjaan, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai CO2, tiap butir zat sintesis yang mengalir ke sungai, semua itu pada akhirnya menghimpun menjadi sebuah daya yang membalik dan merusak. Pembangunan yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera, kenyataan yang terjadi di lapangan bisa sebaliknya. Manusia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Tantangan generasi penerus saat ini adalah memelihara pembangunan. Memelihara sebuah tanah air yang kaya. Sebuah negri sejatinya adalah ruang publik bagi seluruh warganya. Pola hubungan antara individu dengan lingkungan merupakan aktualisasi dari laku budaya setiap individu. Orang dapat bersyukur, dapat pula bertanya, apa artinya kesadaran yang datang telat.
 

Wasana Kata Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review