Selasa, 14 Mei 2013

Kompas.com: Gak Perlu Intelektual, yang Penting Smart!

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar

Melihat perkembangan media online selama masa kebebasan pers, Ada keniscayaan baru. Jika dahulu orang hanya tahu informasi dari media cetak, sekarang dari media online.  Portal berita Kompas.com merupakan salah satu contoh konvergensi media cetak ke media online.

Secara content penulisan berita, berita yang ditulis dalam web biasanya memiliki kaidah penulisan yang sama dengan tata cara penulisan berita TV, radio, atau koran. Melalui link berikut, terdapat beberapa kriteria penulisan berita online http://ayomenulisfisip.files.wordpress.com/2011/02/teknik-penulisan-berita.ppt .

Penelitian terakhir Kompasiana menyebutkan bahwa pengguna online di Indonesia sebenarnya adalah anak-anak muda. Khusus di kompas.com, pengguna terbanyak berumur 15-29 tahun.

Kompas memang menghadapi khalayak yang tentu saja berbeda. Maka teknik penulisan kompas.com berbeda dengan Kompas cetak.

Redaktur Pelaksana Kompas.com, Pepih Nugraha, menjelaskan bahwa dalam penulisan judul, Kompas merumuskannya dengan istilah pertempuran tiga detik.

Judul  merupakan etalase pertama berita. Oleh karena itu, pemilihan judul berita menjadi sangat penting karena para pembaca dalam sekian detik bisa menutup layar atau berganti ke judul yang lain.

Karena khalayak dan karakter medium itu berbeda, maka penyajiannya pun berbeda. Apabila kita perhatikan, Kompas cetak merumuskan bahasanya sebagai bahasa resmi, sementara bahasa kompas.com lebih ke informal, tidak terlalu resmi bahasanya.

Kalau di Kompas cetak intelektual, maka di kompas.com cukup smart saja.

Melihat Kompas cetak dengan bahasanya, itu ibarat telepon. Telepon yang ada gagangnya, yang ada kabelnya. Seperti itu kesannya, karena memang tidak bisa diapa-apain. Baku!

Kadang-kadang bahasan  di Kompas cetak melipir, tidak to the point.   Tapi di  kompas.com bahasanya lugas saja, to the point. Itu yang membedakannya.

Di Kompas cetak ada judul ”PKS tak Kooperatif dalam Advokasi Hukum”. Apabila dimuat di online, judul akhirnya diubah: "Bersikap Antagonis, PKS Blunder!” http://nasional.kompas.com/read/2013/05/16/1106060/Bersikap.Antagonis.PKS.Blunder . Beda nuansanya, namun yang penting tidak mengubah isinya.

”Ayu Azhari Dikaitkan Kasus Suap Impor Daging”. Demikian judul di Kompas cetak. Maka di Kompas.com menjadi Inilah Mulanya Ayu Azhari Dikaitkan Suap Impor Sapi http://nasional.kompas.com/read/2013/05/02/17525057/Ini.Mulanya.Ayu.Azhari.Dikaitkan.Suap.Impor.Sapi . Di kompas.com hanya disisipkan kata inilah. Beda nuansanya dan banyak yang tertarik untuk membaca.

Hal ini harus diperhatikan, karena ini memberi pelajaran tersendiri untuk berita online agar dibuat menjadi atraktif. Maka jangan heran jika menemukan berita-berita yang judulnya nyeleneh tapi menarik di kompas.com. Selamat Membaca.


Ini Alasan Harus Doyan Ngeblog

Ditulis oleh Riska Amelia di Selasa, Mei 14, 2013 0 komentar
Ilustrasi: Dok.net

“Menulislah, atau Kau akan menghilang dalam pusaran sejarah”. Berkaca dari kutipan tersebut, alasan apa lagi yang membuat saya untuk tidak menulis?

Mungkin kita pernah merasakan ide-ide selintas, yang membawa berkeliling dunia, ke satu daerah asing yang tak pernah dipijak. Kemudian, berbekal kata, ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Bertujuan menceritakan segala peristiwa kepada pembaca.

Ada pepatah Inggris mengatakan Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Nah, di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi saat ini, sangat ironis jika kita hanya diam terpaku dan tak menghasilkan karya apapun.

Lewat nge-blog kita bisa mendapat lebih banyak keuntungan. Berikut ini saya sajikan apa aja sih keuntungan kita ketika aktif nge-blog.

Mencatat Sejarah Hidup Kita
Jika rajin menulis dan mentorehkan karya lewat menulis, setidaknya kita bisa dikenang lewat karya tulis kita. Catatan di blog kita itu akan menjadi saksi sejarah hidup kita.

Mempengaruhi dan Menginspirasi Pembaca
Tulisan kita di blog dapat mempengaruhi dan menginspirasi orang lain. Dengan cara seperti itu, kita secara tidak langsung bisa disebut sebagai entrepreneur dan motivator. Kalaupun tak bisa memotivasi orang secara langsung, setidaknya lewat menulis di blog pemikiran dan ide kita dapat tersalurkan.

Jadi Penulis Buku Terkenal
Ketika saya masih duduk di bangku SMA, blogger yang saya ketahui yaitu Raditya Dika. Hingga saat ini kebanyakan orang sudah hapal dan kenal dengan nama itu. Siapa yang tahu kalau buku yang telah ia tulis dan menjadi best seller itu pada awalnya tertuang dalam blog pribadinya.

Jadi Penulis Lepas
Selain bisa jadi penulis buku, berkat ngeblog kita juga bisa jadi penulis lepas Misalkan jika kita senang liburan atau travelling, sambil liburan kita juga nulis dan mempostingnya di blog pribadi.

Nah jika sekiranya hasil tulisannya bagus dan menarik, kita bisa tawarkan tulisan di blog pribadi kita kepada media yang memiliki rubrik perjalanan atau media wisata. Dengan cara seperti itu, tidak sedikit penulisan yang mendapatkan ongkos gratis dari tulisannya itu. contohnya saja Gol A Gong, ia mampu keliling Asia berkat menjual buah tulisannya.

Ladang Bisnis
Berkat menjamurnya media sosial, jiwa bisnis dapa ttersalurakn. Tidak jarang pebisnis memulai menjajakan barang dan jasanya lewat media blog.

Dengan menggunakan blog, kita bisa membuat lapak jualan. Kita bisa dengan bebas menjual apa saja selama tidak melanggar hukum dan moral.

Menghimpun Pertemanan dan Pengetahuan
Lewat blog kita juga bisa berbagi ilmu pengetahuan. Sharing pengalaman atau member masukan dengan blogger lainnya. Tidak jarang berkat hal itu, jejaring pertemanan kita semakin luas dan pengetahuan kita pun semakin banyak.


Rabu, 17 April 2013

Fakultas Tarbiyah Terapkan Sistem ISO

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, April 17, 2013 0 komentar



Menerapkan sistem manajemen mutu berstandar internasional ISO di Perguruan Tinggi merupakan suatu permasalahan serius yang harus direspon.

Hal tersebut kini sedang diusahakan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya.

“Pengusulannya tahun 2012.  Hanya saja kita mengambil ancang-ancang 2013 sudah turun,” ujar Pembantu Dekan 3 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Hasan Basri, saat ditemui di kantornya, Jumat (12/04).

Yang dituju dari penerapan sistem mutu ISO adalah kepuasan pelanggan. Di dalam ruang lingkup persepsi Perguruan Tinggi sebagai organisasi jasa pelayanan pendidikan, pelanggan adalah para mahasiswa.

“ISO sendiri penekanannya pada tingkat kepuasan layanan,” lanjut Hasan.

Keberhasilan mencetak lulusan berkualitas sangat tergantung kepada kualitas mahasiswa, dosen, staf administrasi, interaksi belajar mengajar serta kurikulum.

Dengan menerapkan ISO secara diharapkan mampu menangani konsistensi kualitas faktor-faktor tersebut sehingga output yang dihasilkan juga berkualitas dan pada akhirnya mampu memuaskan masyarakat pengguna.

Disamping banyak keuntungan yang mungkin didapat dari penerapan ISO di Perguruan Tinggi, ada pula kendala yang dapat mengganjal upaya sertifikasi ISO. Menurut Hasan, hal tersebut terletak pada sarana dan prasarana kampus yang masih dalam tahap pembangunan.

“Kita sudah melakukan sosialisasi dengan dosen, dan mereka merespon positif. Bahkan ada surat pernyataan kesediaan dari semua dosen. Masing-masing sudah menandatangani kesiapan dan kesediaan,” ujar Hasan mengakhiri. 

Rabu, 27 Maret 2013

Kesadaran yang Datang Telat

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 27, 2013 0 komentar

Sebuah negri hidup, tumbuh dan berkembang. Segala wilayah didalamnya niscaya memiliki “ruh”, tetap hidup dan menjadi ruang kehidupan Jika ruhnya terawat dengan baik. Sebaliknya, negri mati lantaran “jantungnya “ tak dijaga agar tetap berdegup.

Mungkin hari ini kita menyaksikan metamorfosis alam di sebuah negri yang “kaya”. Dulu, kita bersenandung tentang keindahan dan kekayaan alam. Kini, kita dengan cemas mengikuti berita kerusakan-kerusakan alam. Hujan di negri ini pun kini ibarat seekor naga yang tengah memporakporandakan negri.

Berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan Indonesia di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Lantas, apakah bangsa ini mau belajar? Mengenal sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah. Guru, singkatan dari digugu dan ditiru, tidak menjadi pengangan dalam berpikir dan berperilaku. Bencana ekologis di Indonesia berlanjut sampai hari ini. Kerusakan hutan dan daerah resapan air, pencemaran udara meningkat akibat aktivitas industri, serta banjir menjadi momok tahunan. Begitu luas kesengsaraan.

Dalam film The Happening yang disutradarai M. Night Shyamalan, fenomena ini dijawab dengan cara pikir yang nyentrik. Konon, alam memiliki rasa, dan bisa marah atas perbuatan manusia yang mengancam dan merusak kehidupan mereka. Untuk membalas, tanaman dan tumbuhan berevolusi menciptakan toksin beracun dan menjadi bencana umat manusia. Pesan film ini adalah ancaman terhebat datang dari sesuatu yang tak terduga. Masalahnya, kesadaran akan hal itu selalu datang terlambat.

Film itu setidaknya meninggalkan semacam teka-teki: siapkah kita menghadapi bencana alam? Fenomena lingkungan negri ini menunjukkan disorientasi nilai yang sangat memprihatinkan. Bersama waktu, ribuan orang di pedalaman seolah-olah terhenyak di sekitar tanah, sawah, ladang, yang makin sempit. Hutan dengan cepat gundul, pohon masih lama tumbuh, dan banjir akan datang lagi.



Ya, kesadaran memang selalu datang terlambat. Tak selamanya kita sadar dengan sifat tamak. Padahal, sumber daya alam yang menjadi monopoli pemerintah, tiap are tanah  yang diambil untuk pusat pembelanjaan, tiap liter bensin yang diuapkan sebagai CO2, tiap butir zat sintesis yang mengalir ke sungai, semua itu pada akhirnya menghimpun menjadi sebuah daya yang membalik dan merusak. Pembangunan yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat semakin baik dan sejahtera, kenyataan yang terjadi di lapangan bisa sebaliknya. Manusia seperti tak berdaya di depan alam yang hampir hancur.

Tantangan generasi penerus saat ini adalah memelihara pembangunan. Memelihara sebuah tanah air yang kaya. Sebuah negri sejatinya adalah ruang publik bagi seluruh warganya. Pola hubungan antara individu dengan lingkungan merupakan aktualisasi dari laku budaya setiap individu. Orang dapat bersyukur, dapat pula bertanya, apa artinya kesadaran yang datang telat.

Kamis, 21 Maret 2013

Jurnalisme Warga

Ditulis oleh Riska Amelia di Kamis, Maret 21, 2013 0 komentar


Dewasa ini, di era berbasis teknologi masyarakat ditantang untuk berani mencari dan mengumpulkan berbagai macam peristiwa yang bernilai informasi yang ada di sekitar, untuk kemudian dilaporkan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk media seperti tulisan, foto, maupun video.

Kini, tak hanya jurnalis yang bekerja di media saja yang bisa memproduksi berita, masyarakat yang tidak berprofesi di sebuah media pun dapat berpartisipasi dalam menyebarkan informasi ke masyarakat yang kemudian dikenal dengan istilah jurnalisme warga.

Di Indonesia, jurnalisme warga menjamur berkat kemajuan teknologi. Perkembangannya dipicu oleh tragedy musibah tsunami aceh ketika tahun 2004.

Keberadaan social media seperti blog dan twitter menjadi alat untuk mempublikasikan berbagai karya jurnalistik. Tak hanya itu, media cetak maupun televisi kini mulai menyertakan berbagai konten yang menampung karya jurnalisme warga, seperti contohnya program wide shot di Metro TV.

Keberadaan jurnalisme warga disinyalir mampu mengalahkan media mainstream--yang kini tergerus fungsinya menjadi alat kekuasaan dan komersialisme—dalam hal keakuratan berita dan menurunnya kepercayaan public terhadap pemberitaan media mainstream.

Rabu, 20 Maret 2013

Berburu Akreditasi, Demi Kualitas Atau Harga diri?

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 20, 2013 1 komentar


Telat apabila bercerita tentang akreditasi pada mahasiswa yang sudah masuk kuliah. Kesadaran tentang akreditasi seharusnya dilakukan ketika mahasiswa belum masuk perguruan tinggi. Kenapa? karena akreditasi adalah salah satu filter efektif dalam menyaring pelamar kerja dan beasiswa.

Akreditasi dipahami sebagai suatu proses evaluasi dan penilaian mutu institusi perguruan tinggi dan program studi yang dilakukan oleh tim pakar sejawat di luar lembaga pendidikan tinggi berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan. Menurut Kepala Penjamin Mutu UIN SGD Bandung Atang Abd.Hakim, hasil akreditasi sebuah perguruan tinggi diyakini sebagai bentuk pengakuan bahwa perguruan tinggi tersebut telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan.

Akreditasi sangat penting, sebab itu untuk melihat tingkat keseriusan, kemajuan yang dicapai oleh prodi. Tak sedikit perusahaan memberikan standar lulusan dari perguruan tinggi minimal B untuk dapat di proses selanjutnya dalam penyeleksian karyawan atau pengawai mereka. Bahkan beasiswa seperti Beswan Djarum menetapkan akreditasi jurusan minimal B sebagai persyaratan memperoleh beasiswa.

“Kualitas jurusan itu ditentukan oleh akreditasi. bahkan di sebagian tempat harus melampirkan akreditasi jurusan. Jadi, itu (Akreditasi, -Red) tidak bisa ditinggalkan begitu saja,” tutur Atang, saat ditemui di Al-Jami’ah, Jum’at (25/01).


Fakta ini, kata atang, menunjukkan betapa akreditasi jurusan sangat penting baik bagi kampus maupun mahasiswa, sebab nilai akreditasi menyangkut harga diri jurusan di mata masyarakat.

Dari semua Program studi yang ada di UIN SGD Bandung hanya jurusan Manajemen Pendidikan Islam yang mendapatkan nilai A, itu pun habis waktunya pada tahun lalu dan kini sedang dalam proses perpanjangan.

Beberapa program studi tertentu memiliki akreditasi B yakni Ilmu hukum, ilmu komunikasi, komunikasi penyiaran Islam, pendidikan bahasa inggris, pendidikan bahasa arab, mu’amalah, syakhshiyah, hukum pidana islam, siyasah, perbandingan mazhab hukum, perbandingan agama, dan tasawuf psikoterapi.

Bangunan kampus yang megah dan biaya kuliah yang mahal bukan jaminan bagusnya akreditasi di sebuah program studi. Akreditasi suatu jurusan atau program studi ditentukan berdasarkan komitmen program studi terhadap kapasitas institusional dan komitmen terhadap efektivitas program pendidikan, dimana standarnya mencakup 7 aspek yaitu, (1) Visi, misi, tujuan dan sasaran, dan strategi pencapaian, (2) Tata pamong,  kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu BAN-PT, (3) Mahasiswa dan lulusan, ini biasanya dilihat quesioner para lulusannya, IP yang diraih para mahasiswanya selama 5 tahun berjalan, (4) SDM, (5) Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik (6)Pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi dan, (7) Penelitian dan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama.

Senada dengan Atang, Ketua Dekan Fakultas Psikologi Adang Hambali, mengamini begitu pentingnya nilai akreditasi jurusan. Berbagai Program studi di UIN SGD Bandung patutu berbenah diri untuk terus meningkatkan kualitas jurusannya. Seperti di Fakultas Psikologi yang akreditasinya masih C, bagi Adang ini adalah suatu keharusan untuk memacu agar akreditasi psikologi ini bisa mendapat nilai A.

Duduk dengan nyaman di ruangan kantornya, dengan mengenakan kemeja batik dan kopeah hitam, Adang menjelaskan bahwa saat ini fakultas psikologi sedang meningkatkan mutu fasilitas yang selama ini menghambat proses akreditasi.

“Jadi tahun ini masih bersiap-siap untuk mendapat akreditasi A.  Dulu kita tidak punya IT sekarang sudah punya. Komputerisasi akademik dan kami sudah siap dengan sistemnya,” katanya saat saat ditemui di kantornya, Kamis (31/01).

Selain masalah fasilitas, kurang tersosialisasinya visi dan misi fakultas menjadi hambatan dalam akreditasi jurusan. Mahasiswa kurang memahami bagaimana visi dan misi fakultas psikologi yaitu unggul dan kompetitif dalam menerapkan psikolgi yang berlandaskan nilai-nilai islam. Termasuk kualitas dosen yang saat ini visi misinya pun masih kurang.

“Dosennya dan proses pembelajaran, semua proses ini harus dicapai dalam rangka mencapai visi misi. Jadi antara cita-cita dan proses situ harus sama, prosesnya itu harus sesuai dengan misi,” ucap Adang.

Kemampuan Alumni

Pertimbangan mahasiswa setelah lulus dari universitas, tak lain adalah kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Hal yang menjadi permasalahan dalam penyerapan tenaga sarjana di Indonesia bukan hanya dari nilai akreditasi. Namun, nilai akreditasi tersebut harus dibuktikan dengan kemampuan para alumninya. 

Ketika ditemui, Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Badrudin becerita bahwa saat ini jurusan MPI sudah mengajukan perpanjangan akreditasi atau reakreditasi, namun belum dilakukan visitasi. Menurut edaran dari BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), bahwa selama belum dilaksanakan visitasi, bagi yang sudah menunjukkan reakreditasi maka status nilainya masih tetap sama
“Jadi sampai hari ini masih jurusan MPI tetap berakreditasi A, walaupun sudah habis kemarin Oktober 2012,” jelasnya, Jum’at (01/02).

Badrudin mengakui pengaruh kekuatan nilai akreditasi sebagai bagian instrumen yang diapresiasi untuk keterserapan alumni di dunia kerja. Ia menjelaskan penyelenggaraan perguruan tinggi itu memiliki dua fungsi, yaitu satu untuk merespon pasar dan yang kedua untuk menciptakan pasar. MPI masuk dalam kategori merespon pasar, artinya masyarakat memang membutuhkan tenaga ahli dalam bidang pendidikan Islam, maka program studi MPI hadir untuk merespon kebutuhan masyarakat tersebut.


Badrudin pikir secara psikologis akreditasi membangun confident bagi mahasiswa. Ia melihat dampak psikologisnya apa, membangun rasa percaya diri dikalangan mahasiswa. Tak hanya itu, secara akademik tentu ini pun berdampak positif. Dengan dosen-dosen yang berkualitas, mahasiswa pun mendapatkan ilmu yang berkualitas.

Untuk mengetahui dan mengenali keterserapan alumninya di dunia kerja, jurusan MPI menyebarkan angket tracker study. Tracker study ini untuk mengevaluasi alumni dan pengguna alumni dan dampaknya untuk mengevaluasi kurikulum.

“Sebenarnya alumni-alumni KI ini dilapangan menjadi apa, diantaranya ada yang menjadi guru, pegawai administrasi, aktif jadi konsultan, bahkan ada yang di perbankan. Secara umun  mereka yang belum diangkat menjadi PNS adalah sebagai tenaga kerja pendidik,” tutur Badrudin.

Ia pun menambahkan, Ketika bisa melihat peluang alumni bisa bergerak diberbagai lembaga, maka setelahnya dilakukan peninjauan terhadap kurikulum dengan memperkuat kompetensi penunjang. Karena kompetensi lulusan itu ada kompetensi dasar, kompetensi utama dan kompetensi penunjang. Pada kompetensi penunjang itulah memberi ruang bagi lulusan untuk mengambil  profesi atau posisi yang memang memberi kesempatan bagi mereka untuk bekerja pada berbagai posisi.

Salah satu lulusan UIN SGD Bandung tahun 2006 dari jurusan Pendidikan Agama Islam Siti Nafisah, berpendapat pentingnya akreditasi berpengaruh kepada prestise di jurusan tersebut. Sedangkan kualitas alumni tergantung dari individu mahasiswa masing-masing, bukan bergantung dari akreditasi.

Selain mengutamakan akreditasi atas nama lembaga, kualitas peserta didik pun patut diutamakan. Rendahnya soft skill yang dimiliki para lulusan tak ayal menimbulkan permasalahan baru dalam keterserapan alumni di dunia kerja.

“menurut saya sih lebih ke cita-cita si mahasiswa atau apa yang dibutuhkan di masyarakat. Kalau akreditasinya bagus, tapi alumni gak tertarik atau masyarakat gak butuh, ya nganggur juga,” ucap Siti yang kini berprofesi sebagai guru honorer di salah satu Mts di Tasik.

**Dimuat di Tabloid SUAKA edisi Februari 2013

Tingkatkan Klasemen di Search Engine Lewat Meta Tag

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Maret 20, 2013 0 komentar


Blogger memproduksikan ruang, dan sebuah ruang sosial tumbuh dari sebuah blog. Tentu saja kehadiran blog di dunia maya ini sangat membantu dalam mencari informasi-informasi yang kita butuhkan, bisa juga sebagai sarana mengiklankan sesuatu, berdiskusi, ataupun sebagai pekerjaan untuk menghasilkan uang.

Setelah awal yang lambat, blogging dengan cepat mendapatkan popularitas. Penggunaan Blog menyebar selama tahun 1999 dan tahun-tahun berikutnya.  Blog modern masa kini berevolusi dari buku harian online, di mana orang akan membuat akun yang isinya menceritakan tentang jalan kehidupan pribadi mereka maupun berbagi informasi. Sebagian penulis menyebut diri mereka sebagai diarists, atau citizen journalism.

Tampak blog memiliki kasta tertinggi dalam tingkatan sosial media, karena tugas seorang blogger adalah memberikan informasi yang dapat membantu para pembaca untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sehingga pembaca dapat belama-lama berada di situs kita karena menikmati informasi yang berguna. Maka dari itu, hal yang wajib dilakukan bagi seorang blogger--terutama bagi mereka yang peduli pada optimasi SEO-- yaitu menerapkan penggunaan meta tag pada template blogger. Jikalau mungkin diantara blogger ada yang merasa postingannya tidak terindeks sama sekali oleh Google, salah satu penyebabnya mungkin saja  karena tidak ada meta tag sama sekali dalam template blog.

Meta tag merupakan hal penting dalam penerapan SEO dasar dalam dunia blogging. Pengertian Meta Tag menurut “Kamus Istilah Blogger” yang ditulis oleh Medhy Aginta dalam www.blogguebo.com, adalah kode-kode HTML yang ada di bagian halaman sebuah situs. Tidak seperti tag HTML yang lain, meta tags tidak muncul di halaman posting, sehingga kebanyakan pengunjung tidak pernah melihatnya. Meta tags yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda, namun secara umum semuanya digunakan untuk memberikan informasi tambahan mengenai kondisi sebuah halaman situs kepada robot mesin pencari.

Meta tag bukan "peluru ajaib" yang akan meroketkan situs ke bagian atas semua daftar pencarian halaman. Mereka adalah alat yang akan membantu meningkatkan klasemen di search engine bagi yang menggunakannya. Blogger menggunakan ini dengan strategi pemasaran lainnya untuk mengumpulkan lebih banyak tampilan halaman di pencarian. Setelah memahami bahwa meta tag tidak dimaksudkan untuk dilihat oleh pembaca, melainkan untuk digunakan dalam browser itu sendiri, itu akan membuat mereka lebih mudah untuk digunakan.

Rabu, 13 Februari 2013

Jurnalisme Online

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Februari 13, 2013 1 komentar


Dunia dewasa ini berada dalam era jurnalisme online. Keberadaan berbagai situs berita dan jejaring sosial menjadi sumber utama masyarakat dalam mengakses informasi ditengah serbuan banjir teknologi. Jurnalisme online merupakan proses penyampaian informasi dengan menggunakan media internet. Produk dari jurnalisme model ini adalah media online.
Suwarjono, Sekertaris Jenderal AJI Indonesia sekaligus menjabat sebagai redaktur pelaksana Vivanews, dalam buku Mematuhi Etik Menjaga Kebebasan Pers mendefinisikan media online sebagai media berita online maupun segala bentuk media online yang memuat berita, sebagaimana diatur UU Pers, yang meliputi website, blog, media agregator, maupun platform yang relevan.
Media online merupakan hal yang baru. Kode etiknya baru disahkan pada tanggal 3 Februari 2012 dengan nama “Pedoman Pemberitaan Media Siber”. Meski terbilang baru, perkembangan media online di Indonesia, pesatnya bukan main. Coba lihat, dengan pengguna Facebook sebanyak 35 juta dan Indonesia terbesar ke-2 di dunia. Pengguna twitter 5 juta, Indonesia terbesar urutan ke-5 di dunia. Hal ini didukung oleh murahnya biaya untuk mengakses internet. Bisnis media online pun tumbuh bak jamur, bisa diakses di PC maupun ponsel. Setiap media massa konvensional Indonesia memiliki produk berita versi online agar tak tenggelam dalam lautan persaingan media.



Dahsyatnya, penyebaran isu pun dapat mudah didapat dengan saking banyaknya media sosial yang dipakai masyarakat. Contohnya saja twiter. Beberapa media, seperti Tempo.co terkadang membuat twitter sebagai narasumber beritanya. Tentu dengan dikonfirmasi ulang kepada pemilik akun, namun ada pula yang tidak. Inilah bahayanya. Dibanding media lainnya, penerapan bahasa jurnalistik di media online paling potensial terjadi kesalahan.
Kelebihan media online yaitu sifatnya yang serba cepat dan efisien. Cepat diposting, cepat dikoreksi apabila ada kesalahan kata dan data, cepat disebarluaskan, serta cepat mendapatkan feedback dari pembaca dengan adanya kotak komentar. Cepat, tapi bisa menyesatkan. Nilai berita yang mendasar serta kaidah-kaidah jurnalisme seperti akurasi, verifikasi, dan keseimbangan, cenderung dinomorduakan. Tak heran beberapa media online di Indonesia seringkali mendapat gugatan dari pembaca dan menjadi bahan kritik baik oleh dewan pers maupun AJI serta lembaga-lembaga jurnalis lainnya. 

Jam terbang dan Pendidikan Jurnalisme

Ditulis oleh Riska Amelia di Rabu, Februari 13, 2013 0 komentar


Ada hal terpenting bagi seorang calon jurnalis selain mendalami teori jurnalisme, yaitu “jam terbang”. Itu adalah sebuah kalimat  yang  saya dapat di awal perkuliahan semester genap dari seorang dosen yang sekian tahun mencicipi dunia kejurnalistikan. Lalu bagaimana dengan mutu dalam jurnalisme dalam pendidikan?
Seorang peneliti jurnalisme Indonesia asal Jerman, Thomas Hanitzsch, mendefinisikan mutu dalam jurnalisme dengan mengutip kata-kata ilmuwan Stefan Russ-Mohl, "Ibaratnya memaku puding ke tembok." Sesuatu yang sia-sia.
Setiap institusi pendidikan punya kelemahan di bidang tenaga pengajar. Misalnya, dari 20 dosen tetap, semuanya punya gelar di bidang komunikasi, namun sedikit yang punya pengalaman di bidang jurnalisme. Sialnya lagi apabila materi yang disampaikan tidak sesuai dengan latar belakang pengajar.
Lembaga pers mahasiswa pun lebih diposisikan sebagai murni UKM daripada wadah pendidikan jurnalistik. Keterlibatan mahasiswa jurnalistik berkecimpung dalam dunia pers mahasiswa bisa dikatakan merupakan pilihan. Di lingkup kampus, medan aktivitas mahasiswa tak  hanya di dunia pers, ada medan yang juga jadi pilihan. Sebut saja misalnya mahasiswa jurnalistik lebih tertarik terjun dalam bidang perpolitikan kampus. Lebih enjoy mengejar posisi berjangka setahun ketimbang mengikuti lomba karya tulis. Medan lainnya adalah prestasi akademik di kelas, berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi.
Bisakah IPK menjawab semua hal? Selama ini IPK menjadi  ajang kompetisi yang bergengsi. Pasalnya, IPK telah menjadi banyak tolak ukur dalam penerimaan beasiswa atau persyaratan dalam mendapat pekerjaan. Kendati demikian, fakta lain mencuat lantaran banyaknya para sarjana yang lulus dengan IPK tinggi, namun tak kunjung mendapat pekerjaan.

Lemah Praktek

Bagaimana jadinya Pendidikan jurnalistik jika lemah di praktek dan juga etika. Cenderung mengajarkan teori, sedikit sekali muatan praktis dan etis. Lulusan tak memadai untuk siap langsung bekerja di media. Sekalipun para awak media berpengalaman datang memberikan pendidikan teknik mengumpulkan berita, teknik wawancara, menulis feature dan lain-lain  dalam bentuk seminar atau kuliah umum.

Kemudian, calon jurnalis bingung ketika meliput berita. Sedemikian banyak peristiwa justru membuat jurnalis bingung mau memulai tulisan dari mana. Banyak alasannya, mungkin salah satunya karena minim jam terbang.
Akhirnya calon jurnalis diibaratkan hanya menjadi ember, menampung teori. Ketika terjun ke dunia jurnalistik, media pun tak memberi pendidikan tambahan, hanya menjadikan jurnalis bekerja mengejar keuntungan bisnis.



Sabtu, 08 Desember 2012

Lulus Mata Kuliah Pendidikan Anti korupsi, Jaminan Lulus Dari Godaan Korupsi?

Ditulis oleh Riska Amelia di Sabtu, Desember 08, 2012 0 komentar



Musuh yang harus dilawan dewasa ini bukanlah seperti halnya para penjajah di masa revolusi, melainkan wabah penyakit korupsi yang menggerogoti sikap mental bangsa Indonesia. Kejahatan luar biasa ini memerlukan upaya yang luar biasa untuk memberantasnya.
Gema, retorika, dan upaya melakukan pemberantasan korupsi masih bertalu-talu. Gagasan dan konsep mewujudkan Indonesia bersih dari korupsi sedang disusun dengan gegap gempita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi yang  bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menerapkan mata kuliah pendidikan anti korupsi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia pada tahun ajaran 2013/2014.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sudah membuat surat edaran  yang mewajibkan setiap perguruan tinggi  menyelenggarakan mata kuliah pendidikan anti korupsi, yang diharapkan bisa mencegah korupsi sejak dini.  Dasar hukum dari surat edaran  bertanggal 30 Juli 2012 tersebut adalah Instruksi Presiden RI Nomor 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2012.
Dirjen Dikti Djoko Santoso memberikan wewenang bagi pengelola perguruan tinggi untuk menjadikan Pendidikan Anti Korupsi sebagai pelajaran sisipan, mata kuliah pilihan ataupun wajib. Menurut Djoko, citra buruk bangsa Indonesia sebagai koruptor akan menimbulkan banyak kerugian. Ia berharap pembekalan ini mampu memberikan persepsi yang sama mengenai pengertian, penanganan dan pemberantasan korupsi di Indonesia.
Cita-cita membangun generasi penerus yang anti korupsi dengan karakter pemuda yang berani, jujur dan berintegritas dapat diwujudkan bersama. Oleh karena itu, memberikan pembekalan kepada mahasiswa sebagai pewaris masa depan merupakan usaha yang perlu didukung. Mahasiswa tidak menjadi agen penerus dari sikap mental korupsi, melainkan menjadi agen pembaharu dalam mengantisipasi, mengontrol, melaporkan berbagai tindakan korupsi.
Negri Indah Penuh Masalah
Indonesia memang negri indah penuh masalah. Indonesia penuh masalah karena nasib buruk ulah manusianya sendiri.
Untuk Indonesia, korupsi sudah menjadi masalah sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan, di era orde lama, orde baru, berlanjut hingga era reformasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi, meski hasilnya masih jauh dari harapan.
Lemahnya pemberantasan korupsi yang belum sampai pada hasil yang memuaskan nampaknya berperan besar dalam munculnya Mata Kuliah Pendidikan Anti Korupsi. Menurut Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Oyo Sunaryo, berbagai pertanyaan mengenai mampukah korupsi diberantas merupakan pertanyaan orang frustasi, hal tersebut menggambarkan bahwa korupsi di Indonesia sudah menjadi persoalan pelik bangsa.
“Pertanyaan apakah korupsi itu bisa kita berantas, itu memang seperti pertanyaan orang-orang frustasi, karena melihat saat ini korupsi semakin menggurita. Karena sekarang ini jangankan gajah, tikus pun bisa lewat. Ini menggambarkan bahwa korupsi itu sudah menjadi persoalan pelik bangsa,” ujar Oyo saat ditemui di kantornya, Selasa (13/11).
Pendidikan memang merupakan tempat ideal untuk indoktrinasi nilai-nilai kebajikan sekaligus transformation of knowledge. Ideologi Mata Kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang ditanamkan dalam perguruan tinggi sangat penting sebagai upaya pembentukan karakter yang menekankan pada pembiasaan berkepribadian mulia, bukan sekadar mementingkan aspek kognitif.
“Kalau mata kuliah anti korupsi harus ada di perguruan tinggi, saya melihat itu sebagai lembaga yang memberikan pendidikan moral. Sebab saya yakin, seperti yang pernah Imam Syafi’i katakan bahwa berkembangnya suatu generasi itu hanya dengan ilmu dan dengan ketakwaan. Jadi, bagaimana sosok bangsa ini akan diisi dengan generasi-generasi kemudian kalau kosong dengan ilmu dan ketaqwaan,” papar Oyo.
Pendidikan anti korupsi dalam bentuk mata kuliah seolah menjadikan korupsi sebagai pengetahuan, atau setidaknya bahan telaah para dosen dan mahasiswa. Bedanya, harapannya adalah pengetahuan tersebut bukan untuk diterapkan, namun untuk dihindari.
Sebagai perbandingan, Republik Lithuania adalah contoh bagaimana institusi pendidikan berupaya mencegah program pendidikan antikorkupsi. Tujuannya adalah untuk membentuk posisi sipil aktif dan menumbuhkan intoleransi terhadap korupsi. Pendidikan anti  korupsi berkaitan dengan attitude, sikap atau kelakuan yang merupakan gerbang utama dalam menanamkan nilai kesadaran generasi muda, terutama untuk mengasah kepekaan, menjauhkan diri dari segala bentuk perilaku merampas hak orang lain. Sebenarnya, pemahaman tersebut sudah berada dalam mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi, seperti di UIN melalui mata kuliah Akhlak atau Tasawuf.
“Sebetulnya pada mata kuliah-mata kuliah yang sudah dberikan juga secara umum di perguruan tinggi islam seperti UIN, ada pendidikan akhlak. Lalu, dengan ada pendidikan anti korupsi, diharapkan tidak hanya sekedar tahu, tapi juga faham dan juga ada kesadaran untuk menghindari,” jelas Oyo.
Tantangan Memberantas Korupsi Lewat Pendidikan
Namun, sosialisasi kurikulum anti korupsi nampaknya bisa mendapat tantangan yang hebat dari elemen masyarakat. Banyak yang menyangsikan pembelajaran ini berlangsung efektif. Memberantas korupsi lewat upaya pendidikan anti korupsi itu penting, namun rasanya sangat tidak efektif bila di institusi pendidikan sendiri masih terjadi korupsi.
Timbul pertanyaan, apakah dengan lulus di mata kuliah pendidikan anti korupsi maka dijamin pula akan lulus dari godaan untuk melakukan tindakan korupsi suatu saat nanti? Bisa jadi pendidikan anti korupsi tersebut akhirnya hanya menjadi hapalan saja di Perguruan Tinggi.
Bagi Oyo, pelaksanaan mata kuliah pendidikan anti korupsi merupakan upaya yang strategis, karena menurutnya  memberantas korupsi secara seketika tidak mungkin hanya melalui punishment atau hukuman, butuh proses yang panjang. Memang, salah satu cara yang dinilai efektif adalah dengan menanamkan budaya antikorupsi kepada calon-calon penerus bangsa.
“Rencana lembaga yang ingin melaksanakan mata kuliah anti korupsi ini merupakan upaya yang strategis. Bahwa pemberantasan korupsi ini harus oleh berbagai ranah, berbagai arah, berbagai profesi, bukan hanya dengan punishment yang berat, tapi juga melalui pendidikan,” pungkas Oyo.
Mengenai kurikulum pembelajaran, mari kita tengok sekilas modul pelatihan anti korupsi yang disusun DIKTI bersama KPK. Modul tersebut berukuran 40 MB dengan format file powerpoint berisi 9 file, bisa di download melalui website resmi Dikti www.dikti.go.id. Materinya diawali dengan pengertian korupsi, dilanjut faktor penyebab dan dampak korupsi. Tidak lupa aspek  peraturan dan perundangannya, termasuk referensi konvesi PBB dan jejaring international tentang pemberantasan korupsi. Teori-teori korupsi pun dijadikan referensi. Tidak ketinggalan, nilai dan prinsip anti korupsi pun dipaparkan.
Pendidikan Antikorupsi yang mulai diterapkan untuk semua Perguruan Tinggi di tahun ajaran 2013/2014 merupakan salah satu “alat” baru dalam strategi nasional pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Ini menjadi sebuah percobaan awal keampuhan “alat” KPK dan Mendikbud tersebut. Dalam memberantas korupsi, sesungguhnya bukan hapalan yang kita butuhkan. Justru teladan lah yang perlu dikedepankan.

 

Wasana Kata Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review