Jumat, 29 Juni 2012

Hipnotis Sepak Bola

Ditulis oleh Riska Amelia di Jumat, Juni 29, 2012 0 komentar

Siapa tak kenal Sepak bola di negri ini. Di seluruh penjuru negri, sepak bola akrab dimainkan oleh orang tua hingga anak muda. Menonton pertandingan sepak bola pun merupakan hiburan paling murah dan juga menyenangkan di kala Negara kita di timpa berbagai permasalahan korupsi dan politik.
Dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, Indonesia memiliki banyak supporter sepakbola. Ditambah dengan adanya budaya yang sudah mengakar di masyarakat bahwa sepakbola merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Terlepas dari buruknya prestasi Timnas kita, daya tarik sepak bola nampaknya tidak akan pernah luntur. Sepak bola seperti magnet besar yang mampu menarik perhatian.
Euforia sepak bola ada di mana-mana, mulai dari stasiun kereta api, terminal bus, kafe, hingga perkantoran dan kampus. Di UIN sepak bola telah dijadikan UKM, bahkan di setiap jurusan terdapat tim sepak bolanya sendiri. Aktivitasnya biasanya berupa rutin futsal dan berpartisipasi di pertandingan baik untuk liga UIN, liga jurusan, maupun di liga tingkat Nasiona. Salah satu jurusan yang memiliki tim sepak bola adalah jurusan Teknik Informatika.
“Sepak bola menjadi pilihan karena sepak bola lebih merakyat. Popularitas sepak bola menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berbeda dengan olahraga lain seperti basket atau volley hanya diminati segelintir orang,” ujar  M. Ikhsan, kabid Minat dan Bakat Himpunan mahasiswa Informatika.
Sejak tahun lalu  Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika UIN tergabung dalam Asosiasi Mahasiswa Informatika (AMIF) di Bandung dan berhasil menyabet penghargaan sebagai Juara sepak Bola AMIF CUP 2011. AMIF Bandung ini merupakan sebuah Asosiasi atau perkumpulan mahasiswa-mahasiswa jurusan Informatika dan teknik jaringan komputer seperti dari Unikom, Maranatha, Unpad, Poltek Pos, LPKIA dan perguruan tingi lainnya se-Bandung raya.
Jika berbicara soal sepak bola maka pasti ada supporter. Sepakbola dan supporter adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. Di Indonesia terdapat Ratusan ribu supporter tim sepakbola yang sangat fanatik, beberapa diantaranya yaitu Milanisti, Interisti, Liverpudlian dan tim lokal seperti Viking, Aremania dan The Jack.
Bahkan, klub sepak bola sudah menjadi identitas baru yang wajib disematkan didalam akun Facebook dan Twitter, dan tidak jarang Foto Profil yang digunakan adalah foto dengan Jersey kebanggaan atau football Hero klub yang mereka dukung. Hadi Hidayat Pemain futsal AMIF Cup merupakan supporter dari Tim Italia Juventus adalah salah satunya.
“Sebagai  supporter paling ngga’  punya jersey kostum sepak bola. Karena saya suka juventus ya semuanya serba juventus. Sampe bed cover, gelas semuanya nuansa Juve,” ungkap mahasiswa semester 6 ini saat ditemui di kampus sementara fakultas Sains dan Teknologi, Al-Jawami, Senin (21/5) .

Gila Bola

Sepakbola telah mampu mengubah pikiran normal manusia menjadi gila bola. Antusiasme masyarakat Indonesia pada olahraga yang satu ini sangat kuat sekali. Lihat saja bagaimana antusiasme penonton saat timnas Indonesia bermain di stadion Senayan Glora Bungkarno Jakarta. Para penonton rela antri tiket mulai pagi hingga sore hanya untuk menyaksikan tim kesayanganya, walaupun terkadang hasilnya kurang memuaskan
Tidak memandang tua, muda maupun anak-anak, kecintaan para supporter terhadap klub yang dibelanya telah menjadikan bukti kesetiaan mereka terhadap klub yang dicintainya. Tak heran olah raga yang identik dengan kaum pria ini mulai digemari juga oleh kaum hawa.
Shevti Riani mahasiswa Jurusan pendidikan fisika UIN adalah salah satunya. Supporter dari klub Inggris Manchester United ini mengaku menyukai olahraga sepak bola sejak masih duduk  di bangku sekolah dasar. Tidak hanya gemar menonton pertandingan, mahasiswa semester 4 ini juga piawai memainkan si kulit bundar. Bahkan ia pernah memenangkan juara 1 sepak bola putri jurusan dan juara 1 pertandingan persahabatan se-mahasiswa Kuningan melawan tim putri dari UPI.
“Saya suka bola karena saya suka olahraga selain itu olah raga ini tuh lebih seru, karena kita harus saling percaya sama lawan main kita dan menjaga kekompakan dalam tim dan juga kita bebas berekspresi,” kata Shevti saat diwawancara Selasa (22/5).
Dengan sepak bola, puluhan ribu rakyat Indonesia dapat sukarela berkumpul dengan atribut dan warna baju yang sama, dengan gemuruh semangat dan nyanyian yang sama di satu tempat dalam satu waktu. Bahkan tak sedikit yang rela bergadang hingga pagi hari demi melihat aksi tim yang disukainya bertanding.
Di beberapa Negara, Sepak bola dianggap sebagai identitas bangsa. Seperti di negara-negara di Eropa dan Amerika Latin, sepak bola adalah gelora nasionalismenya. Inggris mungkin dapat dianggap sebagai ajang terbesar bagi tumbuhnya kontribusi sepakbola dalam konstruksi identitas kebangsaan. Sepak bola bisa membuat nasionalisme  meninggi dalam hitungan detik. Sepak bola mengikat masyarakat dengan cara yang ajaib.


Citra Buruk Dunia Pendidikan di Era Desentralisasi

Ditulis oleh Riska Amelia di Jumat, Juni 29, 2012 1 komentar

Korupsi menggerogoti dunia pendidikan di Indonesia. Subsidi pendidikan menuai kritik karena sistem penyalurannya rawan dikorupsi. Indonesia Corruption Watch (ICW) menghitung bahwa sejak tahun 1999 hingga 2011 terdapat 233 kasus korupsi di dunia pendidikan yang masuk pada tahap penyidikan.
Tak heran, Indonesia yang menganggarkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN pada prakteknya masih jauh dari kenyataan. Mutu kualitas pendidikan masih belum memuaskan dan beban biaya pendidikan sekolah yang tinggi bagi masyarakat tidak mampu menjadi permasalahan utama di sektor pendidikan. Ini menjadi persoalan yang mesti dikaji lalu disikapi agar tidak berlanjut terus menerus.
Akses pendidikan di negara ini memang tidak semulus jalan tol. Keterbatasan sarana dan prasarana, mahalnya biaya pendidikan, hingga sulitnya akses buku-buku pelajaran, membuat pendidikan tidak bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah. Padahal, pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara. Sebuah bangsa dikatakan maju apabila peduli terhadap dunia pendidikan. Begitu pun sebaliknya, sebuah bangsa dikatakan kerdil ketika sudah tidak lagi memperdulikan arti penting dunia pendidikan. Efektivitas pencapaian tujuan pendidikan dalam suatu bangsa tentu sangat tergantung dari dukungan pemerintah dalam konteks pemberian subsidi.
Berbicara mengenai subsidi pendidikan, itu merupakan instrumen kebijakan yang digunakan Pemerintah Indonesia untuk merealisasikan keadilan dan pemerataan pada berbagai pelayanan pendidikan.  Pada dasarnya pemerintah adalah pihak yang wajib membuat suatu kebijakan yang dapat menjadi pegangan dan pedoman bagi terwujudnya pendidikan yang harapkan, dan tentunya terlaksana bukan hanya menjadi sekedar wacana.
Untuk menikmati pendidikan yang berkualitas memang butuh biaya yang besar. Pendidikan itu mahal, jika melihat konteks bahwa pendidikan itu wajib bagi setiap orang semasa hidupnya, tidak hanya sekedar wajib belajar 9 tahun. Maka, subsidi pendidikan sangat dibutuhkan untuk  biaya pendidikan yang mahal itu agar tetap bisa dinikmati oleh golongan menengah kebawah.
Namun, korupsi menyebabkan tujuan subsidi untuk pembiayaan pendidikan tersebut tidak tercapai. Bahkan, kenaikan anggaran pendidikan tidak berdampak signifikan terhadap indikator pendidikan karena banyaknya penyimpangan. Kita ambil contoh dana bantuan operasional sekolah (dana BOS) dengan bilangan yang fantastis, terdapat oknum-oknum intelek yang berkeliaran di dinas pendidikan saat pencairan dana BOS berlangsung, bahkan terkadang kepsek dan bendahara yang menjadi korban memalsukan laporan pertanggungjawaban dana BOS.
Begitu pun di jajaran perguruan tinggi yang peluncuran subsidi pendidikannya berupa beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu dan berprestasi dengan maksud untuk memajukan pendidikan. Realitas di lapangan membuktikan banyak sekali orang-orang mampu menikmati subsidi pendidikan yang notabene bukan hak mereka. Masih banyak Perguruan Tinggi memanipulasi data Mahasiswa untuk mendapatkan subsidi tersebut secara tidak wajar. Beasiswa menjadi tidak tepat sasaran dan sudah bukan rahasia lagi faktor kedekatan juga bisa jadi penentu apakah mahasiswa tersebut mendapat beasiswa atau tidak. Praktik kecurangan ini benar-benar merugikan banyak pihak, terutama pihak yang seharusnya berhak mendapatkan beasiswa.
Perlu kita ketahui bahwa pada tahun 2012 ini presiden SBY menaikkan anggaran pendidikan di Indonesia sebesar 20 triliuin, yaitu menjadi 286,6 triliun dengan harapan Kementrian Pendidikan Nasional dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas jangkauan pemerataan pendidikan. Alokasi anggaran diprioritaskan untuk dana BOS bagi siswa setingkat SD dan setingkat SMP; serta menyediakan beasiswa bagi siswa miskin pada semua jenjang pendidikan. Di tingkat pendidikan tinggi, pemerintah memberikan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik, Bantuan Belajar Mahasiswa, dan Beasiswa Bidik Misi yaitu bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan biaya hidup kepada para mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai, tapi kurang mampu secara ekonomi.
Akan tetapi, kenaikan anggaran tidak menjamin bahwa akses pendidikan, terutama pendidikan dasar, lebih terjangkau oleh kalangan bawah. Kenaikan anggaran pendidikan justru dapat meningkatkan potensi korupsi di sektor pendidikan. Hal ini terjadi karena buruknya tata kelola disektor pendidikan.

Desentralisasi pendidikan

Desentralisasi pendidikan telah memunculkan aktor-aktor korupsi pendidikan baru. Banyak aktor terlibat dalam sektor pendidikan baik dari birokrasi pendidikan mulai dari Depdiknas, Dinas Pendidikan, sekolah serta juga berasal dari politisi, kontraktor atau pemborong dan supplier sarana prasarana pendidikan. Hal ini terjadi karena rendahnya partisipasi publik dalam kontrol kewenangan dinas pendidikan daerah dalam penetapan kebijakan dan anggaran pendidikan daerah. Kebijakan dan pengelolaan anggaran pendidikan daerah hanya dikuasai oleh pejabat birokrasi pendidikan daerah.
Terlihat dari pengelolaan anggaran pendidikan yang belum transparan, akuntabel dan partisipatif, institusi pendidikan terutama Depdiknas masih bermasalah ketika diaudit oleh BPK atau BPKP. Paling tidak, status disclaimer (tidak memberikan opini) yang disandang Depdiknas sampai tahun 2007 lalu adalah bukti betapa buruknya pengelolaan anggaran pendidikan di Depdiknas. Begitu juga dengan pengelolaan anggaran pendidikan ditingkat daerah dan sekolah juga masih bersifat tertutup.
Singkat kata, pendidikan itu adalah tanggung jawab semua pihak, tidak dapat hanya pemerintah saja yang bergerak. Masih ada dewan sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, serta ikatan orang tua peserta didik. Pihak-pihak ini diharapkan bisa menjadi pengawas bagi penyelenggaran pendidikan itu sendiri. Selain itu, menurutnya Peranan sektor swasta adalah dapat menjadi alter yang baik bagi pemerintah melalui penyisihan sebagain dana keuntungan dari perusahan (CSR).
Kita berbicara tentang integritas individu bangsa, bagaimana sebuah bangsa menjadi maju atau menjadi sebuah bangsa yang terpuruk.  Kita tidak bisa menutup mata terkait citra buruk pendidikan di Negara kita. Jika kita memahami kondisi ini, maka kita paham betul mengenai perlu adanya perbaikan tata kelola dan mekanisme penyaluran anggaran pendidikan dari para penyelenggara, pengelola, dan peran serta masyarakat.
Tugas utama kementrian pendidikan di era desentralisasi bukan lagi memberikan pelayanan pendidikan secara langsung, melainkan harus meliputi pembuatan kebijakan, mengatur standar pendidikan, dan memberikan perhatian besar pada ketimpangan pendidikan diantara daerah yang kaya dengan miskin serta fokus pada ketidakmampuan daerah miskin untuk menyediakan pendidikan dengan kualitas yang mencukupi.

Jumat, 09 Maret 2012

Kompetensi dan Independensi Jurnalis Dalam Tantangan Media

Ditulis oleh Riska Amelia di Jumat, Maret 09, 2012 1 komentar

Dalam praktik sehari-hari, media sering ditegur karena memuat informasi mengenai masalah negatif, sepihak, serta tidak mendudukkan masalah pada proporsinya. Jurnalis sebagai pembawa berita kini terjebak dalam sebuah realita kekuasaan dan menjadi korban realita tersebut yang pada akhirnya berdampak pada pandangan negatif masyarakat tentang kegiatan kejurnalistikan. Situasi yang tentu sangat disayangkan adalah ketika masyarakat mulai jenuh dan bahkan tidak percaya lagi terhadap informasi pemberitaan yang ada di berbagai media.

Berdirinya sebuah media sangat bergantung kepada kepercayaan publik. Kepercayaan tersebut tentu ditentukan oleh kualitas informasi yang disajikan. Kualitas itu ditentukan oleh para jurnalis yang terjun langsung ke medan peliputan mencari sumber, mendapat informasi, dan mengemasnya menjadi berita yang menarik.

Ketika berbicara tentang media massa di Indonesia, maka kita akan dapat menarik garis besar kepemilikan yang berpusat pada segelintir orang. Ada beberapa tipe pemilik media di Indonesia, yang dari situ arah pemberitaannya berbeda-beda sesuai dengan pemiliknya.

Memang, media massa selalu dirasakan sebagai alat kekuasaan dan ada ideologi dominan di dalamnya yang disebut sebagai hegemoni media. Teori hegemoni dicetuskan oleh Gramsci yang merujuk pada upaya pelanggengan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok yang berkuasa. Di sini, institusi media memberikan sebuah fungsi hegemoni yang secara terus menerus memproduksi sebuah ideologi yang meresap. Dalam kacamata Hegemoni Gramsci, penguasa adalah sejenis makhluk super jenius yang dengan segala tipu daya bisa mematikan kesadaran masyarakat.

Loyalitas Utama

Pertanyaan yang muncul ialah bagaimana mengembangkan kompetensi Jurnalis yang sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat. Loyalitas utama seorang jurnalis adalah kepada warga masyarakat tempat ia berada. Jurnalis bisa melayani warga dengan sebaik-baiknya apabila mereka bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput.
Jurnalis merupakan pembawa suara publik, suara masyarakat, dan kepentingan warga. Jurnalis menjadi penyambung lidah rakyat. Apabila semakin bermutu jurnalisme di dalam suatu masyarkat, maka semakin bermutu pula informasi yang didapat oleh masyarakat. Tentu saja untuk menciptakan calon-calon jurnalis yang independen sesuai kompetensi kejurnalistikan dibutuhkan pendidikan jurnalisme yang baik. Pendidikan jurnalisme itu menjadi kian penting, sepenting uji kompetensi  kewartawanan yang diajukan oleh Aliansi Jurnalis Independen.
Sekarang ini untuk menjadi jurnalis yang baik tidaklah cukup kalau hanya cerdas dan berbakat menulis. Jakob Oetama dalam Pers Indonesia (2001:128) menjelaskan bahwa untuk mengembangkan pers yang sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat maka diperlukan kualifikasi jurnalis. Kualifikasi itu ialah kepekaan terhadap masalah manusia, pikiran yang kritis, terus mencari dan menggugat. Dengan kompetensi itu jurnalis akan memperoleh kredibilitas dan wibawa, dipercaya, dan dijadikan acuan. Etika yang disepakati sebagai kode perilaku professional atau kode etik.
Namun, kehidupan pers dewasa ini sulit seiring masalah yang timbul dengan adanya segelintir jurnalis yang sudah dididik memiliki kualifikasi, kompeten, serta memahami kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik dengan baik pun, jurnalis tersebut pada akhirnya harus tunduk kepada media tempatnya bekerja. Sementara di belakang media tersebut, tidak bisa dipastikan keterlibatan aktor-aktor lainnya yang bertugas mengatur isu yang keluar dan masuk.
Lalu sebuah pertanyaan besar akan muncul. Untuk apa jika demikian adanya mendidik jurnalis dengan baik namun pada akhirnya semuanya kembali ke tangan media. Jurnalis bisa saja menuliskan hal-hal fakta yang objektif, namun pada akhirnya hal-hal itu dikembalikan kepada media sebagai penyalur beritanya.
Apabila jurnalis tidak tunduk atau tidak sejalan dengan kepentingan media yang dikuasai pemilik modal maka otomatis akan disingkirkan. Seperti kasus Luviana yang minggu ini terungkap ke publik. Luviana, seorang Jurnalis Metro TV yang menuntut perbaikan sistem penilaian kerja  yang objektif dan meminta adanya perbaikan program siaran yang sensitif gender dan HAM. Karena aktif menuntut restorasi redaksi ia harus dinonaktifkan dari jabatannya tanpa alasan yang jelas.
Sungguh memprihatinkan, pemilik media mengesampingkan idealisme yang dimiliki jurnalisnya. Saya kira, telah terjadi pergeseran perspektif jurnalis dan rawan bagi arah loyalitasnya.
Pendek kata, porsi terbesar loyalitas jurnalis akan tertuju pada para pemegang kepentingan dibandingkan para pembacanya.  Jurnalis pun menjadi kuli tinta yang bertugas mencari berita sesuai kemauan sang pemilik media. Kegiatan jurnalistik diserahkan kepada orang-orang seperti robot dan mau disuruh-suruh oleh pemiliknya.
Kemana independensi? Kemana idealisme para jurnalis? Para pengelola media tidak seharusnya terjebak pada situasi yang sekadar menguntungkan seraya mencederai idealisme. Jangan bunuh profesionalisme sekadar demi kepentingan pragmatisme.

Minggu, 09 Oktober 2011

Ironi Negara Demo”keras”i : Kekerasan di sekitar kita

Ditulis oleh Riska Amelia di Minggu, Oktober 09, 2011 0 komentar


Kekerasan secara sosiologis berarti adalah konflik sosial yang tidak terkendali oleh masyarakat yang di akibatkan karena masyarakat mengabaikan sama sekali norma dan nilai sosial yang ada sehingga berwujud pada tindakan merusak. Intinya adalah bahwa segala tindakan yang di ambil dalam konteks kekerasan sifatnya selalu merusak dan dalam jangka panjang efek yang ditimbulkan pada korban bisa menghancurkan diri korban.

Banyak orang saat ini cemas jika mengetahui adanya aksi kekerasan. Bangsa Indonesia semakin sering disodori berita mengenai kekerasan serta terorisme. Sebagai konsumsi keseharian, kekerasan perlu dihindari agar masyarakat tidak terbiasakan menyelesaikan setiap permasalahan ataupun perbedaan dengan cara-cara kekerasan.
 Supporter sepak bola rusuh, mahasiswa anarkis, geng motor merusak dan membunuh, kini hal itu masih menjadi fenomena yang membuat kita merasa berada dalam lingkaran kekerasan. Termasuk di lembaga pendidikan yang terkenal dengan tawurannya yaitu di sekolah serta di perguruan tinggi yang merupakan lembaga yang mampu membentuk kaum terdidik dan intelektual. Sudah banyak orang yang memberi komentar dan sudah tak terhitung yang prihatin, sebagaimana aparat hukum kita yang selalu mengungkapkan keprihatinannya tanpa diikuti dengan tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Tak Selesaikan Masalah

Kekerasan, apapun bentuknya, harus dihindari karena sifatnya yang selalu menindas, meminta korban, dan tidak mendidik sama sekali. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah karena pasti dan sangat pasti hanya akan melahirkan lingkaran setan kekerasan yang lain. Secara fisik, kekerasan jelas sangat mudah dilihat kasat mata berupa adu fisik. Kekerasan dalam bentuk lain yang paling sering ditemui adalah dalam bentuk verbal. Kekerasan verbal memang tidak melibatkan fisik, tetapi dampaknya tidak kalah dahsyat karena selalu dipakai untuk mengintimidasi dan melakukan stereotype kepada pihak lain yang harus jadi korban.
Bangsa kita memulai demokrasi dengan harapan akan berdiri negara yang hidup dalam tatanan yang rapi, bersih dan stabil. Bangsa Indonesia, yang sering dilantunkan dalam karya lagu dan puisi, merupakan bangsa yang bermartabat, berbudaya, saling menghormati, ramah dan ber-Bhineka Tunggal Ika. Semua lagu dan puisi itu menjadi hambar tak bermakna saat ini. Bangsa kita diwarnai oleh berbagai keributan, pertengkaran, pertikaian dan kekerasan
Singkat kata, apakah benar kekerasan itu disebabkan oleh tidak jelasnya kurikulum atau materi pendidikan budi pekerti di sekolah-sekolah di negeri atau apakah disebabkan oleh begitu banyaknya tontonan kekerasan yang dilihat, baik kekerasan dalam cerita-cerita di televisi maupun kekerasan sebenarnya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat itu sendiri? . Atau apakah karena tekanan hidup yg makin berat, cermin dr suatu Keputus asa-an masyarakat dalam melawan ketidak adilan yang terjadi atau juga terhadap para pemegang kekuasaan yang lupa akan Kewajiban dan tanggung Jawabnya? Akan ada banyak perdebatan dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Peran polisi sebagai penegak keamanan dalam kehidupan bermasyarakat kini sering diragukan dan dipertanyakan fungsi dan perannya. Negeri ini bukanlah tanggung jawab pemerintah dan aparat melainkan tanggung jawab semua masyarakat sebagai penghuninya. Masyarakat tentunya diharapakan untuk bersikap dewasa dan menciptakan kedamaian.

Jumat, 23 September 2011

Budaya Supporter Sepak Bola Indonesia

Ditulis oleh Riska Amelia di Jumat, September 23, 2011 0 komentar

Pendahuluan

Siapa yang tidak mengenal aksi suporter? mereka bisa nekad melakukan perjalanan jauh meskipun tanpa modal uang sedikitpun atau bahkan melakukan aksi kekerasan jika tim yang menjadi dukungan mereka kalah. Dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa, Indonesia banyak potensi sumber daya supporter yang dapat diserap. Ditambah dengan adanya budaya yang sudah mengakar di masyarakat bahwa sepakbola merupakan olahraga paling populer di Indonesia terlepas dari semakin buruknya prestasi Timnas kita.
Sepakbola dan supporter adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. Dimana ada sepakbola disitu ada supporter. Sepakbola telah mengubah pikiran normal manusia menjadi tergila-gila. Tidak memandang tua, muda maupun anak-anak, kecintaan mereka terhadap klub yang dibelanya telah menjadikan bukti kesetiaan mereka terhadap klub yang dicintainya. Disudut-sudut jalan dipasang berbagai hiasan bendera maupun spanduk dengan berbagai warna kebesarannya merah, hijau, maupun biru telah menjadi simbol dan identitas mereka.
Seiring dengan perkembangan zaman virus-virus suporter sepakbola  mulai masuk di Asia dan mulai merambah di Indonesia, kita mengenal suporter atraktif yang dirintis oleh Aremania (Arema Malang), Pasoepati (Persis Solo), dan kemudian diikuti dengan munculnya berbagai kelompok suporter lain di Indonesia seperti Slemania (PSS Sleman), Brajamusti (PSIM Yogyakarta), Persik Mania (Persik Kediri), The Jak (Persija Jakarta), Viking (Persib Bandung), Laviola (PersitaTangerang), Macz Man (PSM Makasar), Panser Biru dan SNEX (PSIS Semarang),Delta Mania (Deltras Sidoarjo), Bonek (Persebaya Surabaya), dan sebagainya menjadi fenomena baru bagi perkembangan suporter di Indonesia. 
Kehadiran suporter sepakbola dengan berbagai atraksi-atraksi yang kreatif di stadion tersebut telah menjadi warna baru bagi kebudayaan persepakbolaan di Indonesia. Akan tetapi, sudah lazim fanatisme suporter klub sepakbola Indonesia seperti menjadi gejala sosial yang berujung pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat Indonesia saat ini yang erat berkait dengan kefrustrasian dan keterpurukan. Hitam putih dunia suporter Indonesia selalu bertumpang tindih dengan hiruk pikuk bangsa Indonesia dalam segala hal yang mencakup politik, budaya, pendidikan dan ekonomi. Berbagai kerusuhan antarsuporter yang selama ini sering terjadi menegaskan potret buram secara umum. Kerusuhan dan keributan seolah sudah menjadi paket yang disiapkan dari rumah dan akan diperankan dalam menonton sepakbola nantinya.

Tanggapan

Secara lebih spesifik, kita di sini bicara soal norma dan nilai, dua hal yang menjadi dasar pembentukan kode moral sebuah budaya, sistem-sistem simbol di mana perilaku diberi label “ baik”, “buruk”, “benar”, atau “salah”. Di Indonesia, supporter divonis memperburuk citra sepakbola dan dianggap menjadi problem bangsa. Tindak kekerasan, kerusuhan, dan jatuhnya korban baik luka, tewas, rusak dan terganggunya ketertiban, pranata sosial sampai prasarana umum merupakan citra buruk yang melekat pada suporter sepakbola Indonesia. Kerusuhan suporter yang terjadi di Indonesia sebenarnya bukan isu baru, karena sejak lama sebenarnya sudah sering terjadi.
Berikut merupakan beberapa budaya supporter di Indonesia
1.    Antusiasme supporter yang terlalu tinggi dan fanatik membuat mereka rela menunggu di Senayan dan diperlakukan seperti mengantri sembako. Seharusnya mereka tidak terlalu memaksakan diri untuk menonton di Senayan jika memang kehabisan tiket. Mayoritas supporter yg anarkis di GBK adalah supporter dari daerah dan luar jawa. Jika anda orang manado lalu terlanjur dateng ke Jakarta, mengantri dari pagi, lalu hingga sore tiket masih belum ada kepastian. Pertanyaannya, Wajar tidak jika itu menyebabkan timbulnya emosi dan berbuat anarkis? Pemecahannya jika memang kehabisan tiket cukuplah untuk menonton di tempat lain.
2.    Supporter Indonesia berkelakuan baik apabila tim yang mereka dukung menang, tapi bisa mengamuk di kandang sendiri apabila tim kesayangannya kalah, akibatnya fasilitas stadion rusak, bahkan pertandingan bisa terancam dihentikan.
3.    Di Indonesia, jika sebuah tim tertinggal 3-0, pendukung mencemooh tim yang kalah, bertindak anarkis, menghancurkan fasilitas stadion dan berkelahi dengan supporter tim lawan. Berbanding terbalik dengan Inggris, jika sebuah tim tertinggal 8-0 pun para pendukungnya masih bisa bersorak menyanyikan tentang 'pahlawan' mereka.
4.    Hooligan di Indonesia diartikan menjadi sebuah trend bahkan fashion, karena namanya yang sangat keren dan kebarat-baratan. Kata Hooligan sendiri tidak hanya berfungsi menjadi kata benda (noun) saja yang berarti pendukung fanatik tim Inggris. Dalam konteks yang lebih luas, Hooligan bisa pula berfungsi menjadi kata sifat (adjective), kata kerja (verb), dan kata keterangan (adverb). Semua kelompok kata tersebut mewakili perilaku, sifat, pekerjaan atau perbuatan, dan keterangan atau keadaan yang menggambarkan perilaku tidak sportif, tidak jantan, tidak mau mengakui dan menerima kekalahan, anarki, destruktif, serta fanatisme buta. Budaya salah kaprah yang terjadi dikalangan para pecinta sepakbola tanah air selama ini. Kenapa kita tidak percaya diri untuk memakai dan mengembangkan culture kita sendiri yang sudah turun menurun dan cenderung bangga memakai culture luar. Sudah saat nya kita semua kembali pada culture budaya kita sebagai orang timur, termasuk dalam hal menjadi seorang supporter sepakbola. Mengapa harus bangga menggunakan kata-kata Hooligan, Ultras, atau sejuta kata keren lainnya yang jelas-jelas bukan milik kita. Perkenalkan budaya kita pada dunia bukan kita yang menjadi korban budaya dunia.
5.    Penggunaan bahasa dalam olahraga berpotensi menimbukan persepsi keliru. sedikit pemahaman terhadap bahasa yang dengan sedikit pengamatan pada bahasa yang digunakan dalam berita atau siaran olahraga, kita akan dengan mudah menemukan bahwa metafora kekerasan telah merasuk ke dalamnya. Ungkapan-ungkapan offensif, seperti mambantai, menggilas, menghancurkan, mematahkan, atau membungkam lawan, adalah ekspresi yang kerap kali digunakan dalam memberitakan bahwa sebuah sebuah tim dan berbuat anarkis dalam pertandingan sepak bola  di indonesia sudah menjadi wajar karena suporter indonesia selalu diselimuti atmosfer gelap. 
Tak sedikit yang menilai, fenomena suporter sepak bola indonesia merupakan keikutsertaan terhadap kisruhnya persepakbolaan Indonesia secara komunal. Media cetak dan media televisi pun selalu kerap bernada jelek. Alih-alih menjadi wadah pembinaan, PSSI justru memberikan teladan buruk, berupa perilaku melawan hukum, yang, anehnya, betah dipelihara dan ditutup-tutupi pengurusnya sendiri.
Ini merupakan cerminan budaya dari kurang dewasanya segelintir sopporter kita yang masih berpikiran sempit dalam mendukung tim kesayangan. Fanatisme dan harapan berlebih terhadap tim kesayangan tanpa melihat kenyataan yang terjadi dalam tim yang didukungnya justru akan semakin mendorong terjadinya sikap anarkis jika tim kesayangan mengalami kekalahan. Semestinya supporter harus berusaha betul memahami kondisi tim pada saat teraktual: mungkin terlalu banyak pemain kunci yang cedera, kualitas pemain pengganti yang tidak sebanding dengan pemain reguler. Faktor kelelahan yang menerpa sebagian pemain (terutama jika setelah melakukan pertandingan away yang cukup jauh, hingga kualitas pelatih yang kurang mumpuni. Hal-hal seperti ini seharusnya dipahami oleh supporter tim, dan justru sebaiknya supporter bisa memberikan dukungan atau masukan ke pihak klub mengenai ini. Dukungan supporter akan lebih mempunyai efek positif bagi mental tim jika diberikan justru pada saat tim sedang terpuruk.
Namun ada faktor-faktor lain yang bisa menimbulkan anarkisme supporter yaitu: buruknya manajemen liga, masih kurangnya stok wasit yang berkualitas, standar kenyamanan stadion indonesia yang rata-rata dibawah kualitas standar kenyamanan yang distandarkan FIFA, dan adanya contoh buruk yang ditunjukkan oleh sebagian pengurus PSSI yang masih mecari keuntungan dari organisasi dan bukan memberikan keuntungan bagi organisasi.

Kesimpulan

Bagaimanapun suporter sepakbola adalah aset berharga bagi persepakbolaan nasional. Suporter tidak hanya mampu menyuarakan dukungannya kepada klub kesayangannya kala bertanding, namun juga mampu menyuarakan aspirasi demi terciptanya persepakbolaan Indonesia yang berprestasi dan profesional. Suporter yang mungkin selama ini berseteru, tak seharusnya melanjutkan budaya rasis dan anarkisnya dalam menyambut kompetisi mendatang. Ini adalah cita-cita luhur suporter Indonesia yang menjunjung tinggi peradaban sepakbola dunia. 
Dengan sepak bola, puluhan ribu rakyat Indonesia dapat sukarela berkumpul dengan atribut dan warna baju yang sama, dengan gemuruh semangat dan nyanyian yang sama di satu tempat dalam satu waktu demi satu kehormatan dan kejayaan satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. 
Mudah-mudahan Sepakbola nasional kembali mencatatkan sejarahnya dengan menyatukan suporter lokal menjadi suporter nasional dengan asas perdamaian dan profesional. Tidak ada lagi rasisme baik bertajuk lagu, yel, maupun bentuk lainnya dan tidak ada lagi budaya anarkisme dalam nama dan bentuk apapun. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi tawuran, yang ada adalah kenyamanan menonton Liga Indonesia dan sambutan hangat suporter tim tamu.

Senin, 19 September 2011

Definisi komunikasi

Ditulis oleh Riska Amelia di Senin, September 19, 2011 0 komentar


Berikut merupakan definisi komunikasi menurut beberapa pakar komunikasi.

1.    Prof.Onong Cahyana Effendi
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media)

2.    Harold Laswell
Komunikasi adalah gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa, dan apa efeknya.

3.    Raymond Ross
Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.

4.    Gerald R. Miller
Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk mempengaruhi perilaku mereka.

5.    Everett M. Rogers
Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

6.    Carl I. Hovland
Komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.

7.    New Comb
Komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.

8.    Bernard Barelson & Garry A. Steiner
Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.

9.    Colin Cherry
Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.

10. Hovland, Janis dan Kelley
Komunikasi merupakan proses individu mengirim rangsangan (stimulus) yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses.

11. Louis Forsdale
Menurut Forsdale (1981), ahli komunikasi dan pendidikan “communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules”. Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu sistem dibentuk, dipelihara, dan diubah dengan tujuan bahwa sinyal-sinyal yang dikirimkan dan diterima dilakukan sesuai dengan aturan.

12. William J. Seller
William J.Seller mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti.

Jumat, 16 September 2011

Perbedaan Budaya Italia & Inggris

Ditulis oleh Riska Amelia di Jumat, September 16, 2011 0 komentar

Di Dalam Lapangan

1) Pada hari Minggu di Italia, para suporter mempunyai jadwal rutin sebagai berikut: pergi ke gereja, menyaksikan pertandingan, pulang ke rumah. Sedangkan di Inggris: pergi ke bar, menyaksikan pertandingan, kembali ke bar.
2) Di Italia, pasta dan segelas red wine adalah hidangan tepat sebelum pertandingan. Di Inggris, kebab dan kentang goreng ditambah bir setengah liter sebelum ke stadion sudah cukup.
3) Di Italia, polisi akan membiarkan Anda melempar jeruk ke arah bus yang mengangkut tim lawan. Di Inggris, Anda akan dijebloskan ke penjara bila melakukan perbuatan seperti itu.
4) Tifosi Italia berkelakuan baik di laga tandang, tapi bisa mengamuk di kandang sendiri. Fans Inggris berkelakuan baik di negeri sendiri, tapi menggila di Eropa.
5) Di Inggris, penonton duduk di bangku stadion. Di Italia, bangku stadion bisa dijadikan senjata.
6) Di Inggris, petugas keamanan memperhatikan ulah penonton. Di Italia, petugas keamanan menyaksikan pertandingan tapi merangkap sebagai Ultras.
7) Di Inggris, Anda harus pergi ke warung stadion untuk membeli makanan. Di Italia, Anda cukup meneriakkan 'A Bibitaro' kepada penjual makanan yang tak jauh dari bangku Anda, kemudian Anda memberikan uang yang disampaikan melalui satu penonton ke penonton lainnya, sementara sang penjual mengirimkan sebuahcornetto dengan cara yang sama.
8) Di Inggris, jika Anda cepat, kuat dan bisa berlari non-stop selama 90 menit, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun skill permainan Anda menyamai skill seekor keledai. Di Italia, jika Anda memperagakan taktik dan teknik yang memadai, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun kecepatan dan mobilitas Anda menyamai kura-kura.
9) Di Inggris, jika Sky Sports mengatakan bahwa Peter Crouch adalah pemain terbaik dunia, satu negara akan percaya. Di Italia, jika Sky Italia mengklaim bahwa Simone Loria adalah bek terbaik di planet ini, satu negara akan berhenti berlangganan stasiun televisi tersebut.
10) Di Italia, 'hasil akhir membenarkan tujuan awal', dan menarik kostum tim lawan, diving, pelanggaran keras dan menipu wasit adalah aspek-aspek penting dalam pertandingan. Di Inggris, semua tindakan tersebut adalah bentuk kecurangan, dan filosofi 'tujuan awal membenarkan hasil akhir' diikuti, karena fair play lebih penting ketimbang menang dengan cara apapun.
11) Di Italia, pertahanan adalah kesenian. Di Inggris, pertahanan adalah anti-sepakbola.
12) Di Italia, jika sebuah tim tertinggal 3-0, semua pemain menyerah, dan semua pendukung mencemooh tim yang kalah, menghancurkan mobil pemain terburuk, dan menyerbu latihan tim pada hari berikutnya. Di Inggris, jika sebuah tim tertinggal 8-0 pun, para pemain masih berjuang dan mengejar bola hingga akhir menit meskipun sadar pasti kalah, sementara para pendukungnya bersorak menyanyikan tentang 'pahlawan' mereka.
13) Di Inggris, wasit yang buruk memang buruk. Di Italia, wasit yang buruk adalah korup.
14) Di Inggris, acara televisi sesudah laga berakhir adalah 99% cuplikan pertandingan dan 1% analisis. Di Italia, acaranya 1% cuplikan pertandingan dan 99% analisis (atau tayangan ulang dalam slow-motion).
15) Di Inggris, Anda jarang mendengar berita tentang ketua klub, yang cenderung untuk menjauhi pers. Di Italia, presiden klub sudah terbiasa melontarkan komentar kontroversial.
Di Luar Lapangan
16) Di Italia, menyuap dan korupsi adalah bagian kehidupan. Di Inggris, istilah 'backhander'adalah jenis pukulan dalam olahraga tenis [di Italia 'backhander' diartikan sebagai penyuap].
17) Di Inggris, Anda tak bersalah sebelum terbukti bersalah. Di Italia, Anda dinyatakan bersalah sebelum terbukti tak bersalah.
18) Di Italia, anak seumur sembilan bulan sudah diberikan minuman beralkohol untuk pertama kalinya, dan belajar untuk menghargai minuman itu. Di Inggris, anak-anak dilarang menyentuh minuman keras hingga usia 18 tahun, dan selanjutnya mereka belajar untuk melemparkannya.
19) Di Italia, anak-anak cowok dijaga ibunya hingga usia 40 tahun merupakan hal yang biasa. Di Inggris, anak-anak cowok sudah mencari rumah sendiri dan berusaha mandiri saat berusia 16 tahun
20) Pria Italia sudah mencukur kumisnya pada usia 11 tahun, dan rutin setiap hari supaya terlihat halus. Pria Inggris mulai mencukur ketika menginjak usia 18, dan selanjutnya harus menunggu lima tahun lagi untuk melihat jenggot tipis tumbuh dari ujung dagunya.
21) Di Inggris, ketepatan waktu dan mengatur jadwal sangat penting. Di Italia, 30 menit terlambat masih tepat waktu.
22) Di Italia, tidak ada orang yang beli karcis untuk naik kereta api. Di Inggris, semua orang membayar, meskipun tarifnya sangat tinggi dan lebih murah naik taksi.
23) Di Inggris, melanggar hukum adalah hal yang bersifat pribadi dan patut dirahasiakan. Di Italia, melanggar aturan adalah sumber percakapan yang menghibur dan wajib diceritakan ke teman-teman.
24) Orang-orang Italia berlibur dan kulitnya tak mudah terbakar oleh sinar matahari, bahkan kulitnya akan tetap berwarna coklat. Tapi orang-orang Inggris kulitnya mudah terbakar, dan butuh waktu yang lama untuk mengembalikan warna kulit aslinya.
25) Di Italia, pakaian sporty dari atas ke bawah dianggap tidak mengikuti tren. Di Inggris, tidak memakai pakaian olahraga berarti bencong.
26) Di Italia, tidak ada orang yang mengantri, tapi dorong-dorongan terjadi sambil berpura-pura mengenal seseorang di depan antrian. Di Inggris, semua orang rela mengantri berjam-jam, dan meskipun ditolak, mereka bisa pergi tanpa mengeluh.
27) Di Italia, politik adalah hal yang melekat di dalam jiwa. Di Inggris, politik kalah pentingnya dengan 'Big Brother', acara televisi populer yang memperlihatkan sekumpulan orang tidak berbakat yang melakukan hal-hal tidak penting sepanjang hari.
28) Di Italia, dua orang dengan jenis kelamin yang sama berpelukan dan mencium pipi adalah hal yang normal. Di Inggris, Anda 'tidak normal' jika melakukan itu.
29) Di Italia, jika Anda pergi ke sebuah pesta, Anda dipastikan kenyang karena makanan yang disajikan tuan rumah tersedia dalam porsi berlebih. Di Inggris, jangan heran bila Anda diminta untuk membawa makanan sendiri ke pesta, tapi akhirnya Anda masih lapar dan harus mampir ke McDonalds sebelum pulang.
30) Di Italia, penyiar televisi cantik antara lain Juliana Moreira, Ilary Blasi, Christina Chiabotto, Ilaria D'Amico dan Michelle Hunziker, itupun baru sebagian. Di Inggris, hanya ada Jordan atau Jody Marsh.

 

Wasana Kata Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review